Fidel Castro dan Barack Obama pada 2015 silam. (Foto: Reuters)
Raul Castro dan Barack Obama pada 2015 silam. (Foto: Reuters)

NUSANTARANEWS.CO, Miami – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan sebuah kebijakan baru terhadap Kuba untuk memperketat peraturan tentang perdagangan dan perjalanan. Kabar tentang kebijakan ini sebetulnya sudah beredar luas di sejumlah media, tetapi waktu itu masih sebetas rumor.

Dilansir Independent, Presiden AS ke-45 itu telah mengumumkan bahwa pemerintahannya akan memperketat peraturan terkait hubungan AS-Kuba. Trump berdalih, peraturan tersebut untuk memperkuat rakyat Kuba.

“Kami tidak akan diam dalam menghadapi penindasan komunis,” kata Trump di depan kerumunan orang di Miami.

Trump berjanji akan membantu rakyat Kuba dan memastikan bahwa uang Amerika akan dikirimkan ke orang-orang Kuba, bukan kepada pemerintah Kuba. Ia menggambarkan pemerintahan Raul Castro sebagai rezim brutal dan suka berbicara dengan selalu menggambarkan tindakan keras dan brutal. Kuba, kata dia, memenjarakan agama.

Selain itu, Trump juga menggambarkan Kuba sebagai ancaman keamanan utama bagi Amerika Serikat, dengan mengatakan bahwa negara tersebut telah mengirim senjata ke Korea Utara serta mengizinkan pembunuh polisi untuk mencari perlindungan di perbatasannya.

“Segera berlaku, saya membatalkan kesepakatan terakhir satu administrasi dengan Kuba,” cetus Trump.

Sementara itu, Senator Florida Marco Rubio memuji dan mendukung Trump untuk mereformasi kebijakan AS ke Kuba. Rubio yang terbang ke Miami satu pesawat dengan Trump dianggap otak utama dalam menasihati Gedung Putih mengenai kebijakan Trump ini.

Perubahan kebijakan dikatakan tidak akan mengakibatkan banyak perubahan mendasar, dan tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi hubungan diplomat antara kedua negara saat ini.

Sebagai gantinya, Trump telah menginstruksikan pemerintahnya untuk mulai meninjau bagaimana mereka dapat mengubah kebijakan untuk memenuhi tujuan pemerintah. Tinjauan kebijakan tersebut akan berfokus pada cara terbaik untuk menghilangkan perjalanan individu ke Kuba yang menurut Gedung Putih disalahgunakan (secara teknis pariwisata ke Kuba saat ini tidak legal), dan bagaimana memastikan bahwa uang Amerika dihabiskan di Kuba atau barang Kuba masuk ke Tangan rakyat Kuba dan bukan pemerintah.

Ini sekaligus membenarkan prediksi banyak media bahwa Trump benar-benar akan melarang perusahaan AS melakukan bisnis dengan perusahaan Kuba yang terkait dengan militer dan peraturan pengetatan bagi orang Amerika yang bepergian ke sana.

Dengan demikian, sekali lagi Trump mencabut kebijakan Barack Obama. Sebab di masa kepemimpiannya, Obama membentangkan tangan persahabatan dengan Kuba menyusul kematian pemimpin revolusi Fidel Castro. Seperti diketahui, Obama memulihkan hubungan AS-Kuba pada Juli 2015 silam.

Obama ingin baik AS maupun Kuba saling melupakan peristiwa masa lalu dan bersama-sama menatap masa depan yang lebig gemilang.

“Selama saya di pemerintahan, kami bekerja keras untuk melupakan masa lalu, mengejar masa depan hubungan dua negara yang bukan ditentukan oleh perbedaan,” kata Obama seperti dilansir AFP, Minggu (27/11) silam. (ed)

Editor: Eriec Dieda

Komentar