Pesawat intai strategis Boeing 737-200 ‘Camar Emas’ milik Skadron Udara 5. Foto Ian Lim/ via jakartagreater.com
Pesawat intai strategis Boeing 737-200 ‘Camar Emas’ milik Skadron Udara 5. Foto Ian Lim/ via jakartagreater.com

Opini: Jagarin Pane, Analis Pertahanan dan Alutsista TNI

NUSANTARANEWS.CO – Ajakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte agar militer Indonesia ikut andil memerangi militan ISIS di Filipina Selatan merupakan sebuah kehormatan namun harus disikapi secara bijaksana. Duterte mengajak Indonesia tentu dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah kemampuan militer Indonesia melakukan perang gerilya, anti gerilya dan pertempuran jarak dekat yang dikenal dengan perang kota.

Hampir sebulan ini berbagai kegiatan patroli ketat dilakukan TNI di sepanjang garis perbatasan dengan Filipina. Setidaknya ada 12-15 KRI berbagai jenis dioperasionalkan bersama dengan pesawat pengintai TNI AU baik intai taktis maupun intai strategis, termasuk juga pengerahan jet tempur Sukhoi ke Tarakan dan Manado. Bahkan 2 kapal selam KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 kita dikerahkan ke perbatasan wilayah panas itu bersama kapal perang jenis intelijen bawah air KRI Spica 934 yang punya alat deteksi canggih bawah air.

Di perbatasan pulau Sebatik, Nunukan, Bunyu, Tarakan disiagakan satuan-satuan tempur dan intelijen TNI AD untuk memastikan tidak ada rembesan militan dan senjata mautnya masuk ke wilayah NKRI. Sangat pantas kita waspada dengan kondisi di Marawi dan Mindanao, karena ternyata militan Maute yang berafiiasi dengan ISIS mampu melakukan pertempuran jarak dekat dan belum bisa ditaklukkan sampai saat ini.

Baca: Kekuatan Militer Indonesia di Natuna Kian Membara

Yang menarik adalah pengerahan kekuatan itu justru mampu melipagandakan kekuatan jaga teritori Ambalat karena wilayahnya memang berdekatan. Sambil menyelam minum air atau sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Meski Malaysia tidak ngotot lagi menghadirkan kapal perangnya, TNI selalu siap siaga menjaga Ambalat sepanjang tahun. Ini yang disebut menjaga gengsi berteritori secara milter, dan itu perlu meski di tataran diplomatik belum selesai perkaranya.

Militer Indonesia sangat berpengalaman dengan model “perkelahian” yang dilakukan militan dan separatis. Selama konflik dengan GAM di Aceh, TNI mampu menyekat dan melakukan serangan balasan yang mematikan sehingga tidak sampai terjadi pertempuran skala besar sebagaimana yang terjadi di Marawi. Demikian juga selama operasi militer di Timor Timur dulu, setelah melakukan serangan pendudukan, yang terjadi kemudian hanya pertarungan skala kecil, tidak head to head sebagaimana di Marawi.

Pantau: Pertunjukan Mendebarkan Helikopter AW101 Di Garis Polisi

Ajakan Duterte harus benar-benar disikapi dengan bijaksana. Jangan sampai kita terjebak dalam perang berlarut di negeri orang. Selama ini pengiriman pasukan TNI adalah dalam rangka peace keeping bukan untuk kombatan. Sementara bisul di Mindanao itu sudah berlangsung lama mulai dari MNLF, MILF sampai Abu Sayyaf yang bersinergi dengan Maute. Persoalan internal mereka di seputar keinginan melepaskan diri, dan itu sudah dipenuhi dengan otonomi khusus dari Pemerintah Filipina dan MNLF. Tapi kemudian muncul lagi MILF, Abu Sayyaf dan Maute.

Dalam pandangan kita lebih baik kita konsentrasi kedalam dengan memperbesar mata dan telinga intelijen kita. Komando teritorial yang ada seperti Koramil dan Kodim tentu harus diberdayakan bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk mendeteksi dini bau-bau Maute dan bau-bau ISIS yang tidak sedap yang mungkin merembes dan membocori suasana damai di negeri kita. Sel-sel ISIS di negeri ini juga ada di beberapa tempat dan sudah melakukan serangan berbahaya ke aparat kepolisian.

Simak: Analis Pertahanan dan Alutsista TNI: Menguatkan Tentara Langit Nusantara

Mata dan telinga intelijen adalah kunci untuk meredam dan mengeliminasi pergerakan teroris dan separatis. Kelengahan intelijen bisa mengakibatkan terjadinya serangan teroris secara masif sebagaimana yang terjadi di Marawi. Beruntunglah kita masih mempunyai komando teritorial di daerah seperti Babinsa, Koramil, Kodim, Korem yang beberapa waktu lalu digugat eksistensinya, dan sekarang ternyata berguna.

Sel-sel Babinsa, Koramil, Kodim yang diterjunkan ke nadi-nadi kehidupan, bergerak bersama roda kehidupan masyarakat yang dinamis di negeri ini adalah metode yang paling afdhol untuk deteksi dini adanya sel-sel asing yang berwajah “amarah”. Apalagi jika pergerakan mata dan telinga di garis depan ini disinergikan dengan silaturrahim yang terus menerus dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat termasuk MUI, ormas keagamaan, diniscayakan mampu mementalkan pergerakan sel-sel asing yang ingin merusak keharmonisan dan kedamaian.

Telaah: Proyek Alutsista Strategis Kapal Selam Diam-diam Sudah Dimulai

Jadi kedalam saja kita berkonsentrasi, lebih baik melihat kedalam membenahi kelincahan gerak mata dan telinga kita. Jangan dibiarkan matanya rabun dan telinganya budeg. Ongkos operasionalnya dibaguskan, perlengkapan mata dan telinganya diperkuat. Kalau di Natuna kita perkuat infrastruktur militer untuk mengantisipasi ancaman berlabel negara, maka untuk antisipasi ancaman teroris dan militan perkuat basis teritorial dan intelijen daerah. Kita meyakini TNI bisa melakukan itu. (3 Juli 2017)

Editor: Achmad Sulaiman

Baca juga artikel terkait Militer Indonesia dan Alutsista TNI karya: Jagarin Pane

Foto: Pesawat intai strategis TNI AU

Komentar