Kekuatan Finansial Islam Dalam Menjawab Arus Ekonomi Global

0
Perang Ekonomi Global/Foto liputan6/Nusantaranews
Perang Ekonomi Global/Foto liputan6/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Ketakutan terbesar setiap bangsa negara adalah runtuhnya sistem perekonomian dan keuangan. Tak bisa dipungkiri bahwa digdaya tidaknya suatu negara terletak pada bagaimana mobilitas negara tersebut dalam mengkonstruk tatanan ekonominya. China misalnya dengan konsep kebijakan ekonomi inklusinya mencoba menyisir satu persatu pasar global.

Di era pasar bebas semua sistem perdagangan bisa keluar-masuk tanpa ada hambatan. Ekspor-impor barang secara besar-besaran menjadi paradigma yang sudah mengakar dalam pasar bebas. Segalanya bisa dijual, selagi ada barang yang dijual. Sehingga proses transaksi jual-beli seakan sudah tidak memiliki batas proteksi. Pertanyaan, bagaimana cara untuk menyelamatkan masa depan negara-negara yang sedang terancam dari gejolak ekonomi global yang kian buas?

Kaitannya dengan ini, keberadaan lembaga-lembaga keungan konvensional dunia tidak mampu meredamnya. Hampir sebagian besar sistem yang digunakan keuangan konvensional dunia selalu merujuk pada konsep kapitalisme. Dimana, yang memiliki modal yang berkuasa dengan keuntungan-keuntungan itu. Lantas, apa yang harus diperbuat untuk bisa keluar dari jurang-jurang kapitalisme itu?

Ibrahim Warde (2009) dalam salah satu bukunya pernah menawarkan alternatif bagaimana menghalau dan menjawab tantangan dari dampak pasar bebas. Implikasinya berdasarkan pada pemahaman atas konsep kuangan Islam yang memberikan keuntungan merata. Bukan, keuntungan yang sifatnya personal dan temporal, seperti keuangan konvensional kebanyakan. Kondisi ini juga tidak bisa lepas dari keuangan Islam yang tak lagi dianggap sebagai mode yang kuno atau sekedar sebagai epifenomena revivalisme Islam.

Saat ini, institusi keungangan Islam telah beroperasi di lebih dari 70 negara, dengan aset yang meningkat lebih dari 40 kali lipat sejak 1982 dan capaiannya melebihi $200 Milyar. Bahkan, pada 1996 dan 1997 mereka mengalami pertumbuhan dengan rata-rata per tahun masing-masing mencapai 24 persen dan 26 persen.

Hal itu tentu mengejutkan dan paradoks dengan pernyataan yang menyatakan bahwa Islam tidak kompetitif dengan “tatanan dunia baru” atau banyak pandangan lain yang terlalu menggeneralisasi, misalnya yang menggambarkannya sebagai sebuah dunia tanpa inflasi, tanpa pengangguran, tanpa eksploitasi, dan tidak ada kemiskinan atau menganggap institusi keuangan Islam tidak berbeda dengan institusi konvensional karena bank Islam pun sebenarnya memasang bunga. Hanya istilah dan kulitnya yang berbeda.

Pandangan-pandangan semacam ini tentu tidak membantu untuk menjelaskan kompleksitas keuangan Islam yang tidak dapat dipahami tanpa memahaman secara menyeluruh terhadap agama dan keuangan, sejarah, politik, ekonomi, bisnis, dan kebudayaan.

Karena itu Ibrahim Warde (2009) berusaha untuk memperkenalkan gambaran yang lebih komplit dari keuangan Islam dengan menggambarkan berbagai segi yang dimilikinya, menempatkannya dalam konteks ekonomi global, dan mengeksplorasinya dari perspektif-perspektif empiris, komparatif dan historis. Selain itu, dirinya juga mengidentifikasi ekonomi moral dan membahas isu-isu kultural, moral hazard Islam.

Namun hal tersebut di atas, hanya sebatas deretan teori. Bagian yang tersulit adalah menerjemahkan prinsip-prinsip keuangan Islam yang luas dalam kehidupan nyata. Secara lebih spesifik lagi, untuk memberikan kontribusi pada proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, pihak institusi keuangan harus belajar untuk mentransformasikan dana tabungan ke dalam suatu investasi-investasi riil dan menjalankannya secara evesien.

Artinya bertindak sebagai pelaku arbitrase risiko (risk arbitrageurs) untuk investasi dengan tingkat pengembalian (rates of return) dan tingkat risiko (risk level) yang berbeda-beda. Jadi sangat jelas sekali jika Islamic Finance (keuangan Islam) telah menerapkan suatu konsep hubungan yang saling menguntungkan.

Editor: Romandhon

Komentar