Kecanduan Film Porno Berdampak Pada Mental dan Pendidikan

0
Age Checks/Foto nusantaranews/Getty/istock via independent
Age Checks/Foto nusantaranews/Getty/istock via independent
Age Checks/Foto nusantaranews/Getty/istock via independent
Age Checks/Foto nusantaranews/Getty/istock via independent

NUSANTARANEWS.CO РKekerasan seksual di Indonesia marak terjadi pada anak-anak di bawah umur. Dalam pantauan nusantaranews.co wilayah dengan posisi teratas dalam kasus kekerasan seksual terjadi di Aceh sesuai  laporan sebuah survey. Hasil Survey ini juga menempatkan Jawa Timur berada di posisi kedua dan Jawa Barat menempati posisi ketiga.

Angkat tersebut membuat Legislator daerah pemilihan Nangroe Aceh Darussalam (NAD) Nasir Jamil kaget, nyaris tidak dapat dipercaya. Namun laporan hasil penelitian tersebut dinyatakan mendekati kebenaran.

(Baca : Nasir Jamil Kaget Angka Kekerasan Seksual di Aceh Tertinggi)

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Nasional Perempuan Azriana menyatakan bahwa, kalau berbicara angka kekerasan seksual di satu daerah, ada baiknya melihat seperti apa upaya yang dilakukan pemerintah daerah setempat untuk menangani dan memenuhi hak korban, terutama hak atas keadilan dan pemulihan, serta apa upaya pemerintah daerah setempat untuk memastikan kekerasan tidak berulang.

Berdasarkan asumsi di atas, maraknya kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga terjadi di pedesaan. Dimana, salah satu faktor utamanya adalah kurangnya pengetahuan para pelaku terhadap dunia seksualitas. Disamping itu, para pelaku tidak sedikit yang mengaku bahwa dirinya melakukan perbuatan keji tersebut lantaran sering nonton film porno.

Tidak dapat disangkal bahwa, film porno bagi orang yang belum berkeluarga terlebih bagi anak di bawah umur, akan membuat mental mereka rusak. Selain menyasar kerusakan mental, film porno juga mengganggu pendidikan mereka.

Oleh karena itu, mantan Perdana Menteri Britania Raya (masa jabatan antara 2 Mei 1997 sampai 27 Juni 2007), Tony Blair mendatangi Sekolah Menengah Atas almamatarnya dengan tujuan memasukkan pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah.

Tony Blair yang juga pernah menjadi Menteri Pelayanan Sipil Britania Raya dan Anggota Parlemen Britania Raya untuk daerah pemilihan Sedgefield di North East England, dengan sadar memberikan kelas di almamaternya terkait “kesadaran pornografi”, mengingat nonton film porno bagi para siswa memiliki efek negatif yang signifikan yaitu kecanduan. Hal itu dilakukan atas dasar kekhawatiran mendalam terhadap masa depan para siswa yang sekolah di alamamaternya.

The Sunday Times melaporkan baru-baru ini seperti dikutip independent bahwa Fettes College, sebuah sekolah independen di Edinburgh, Scotlandia baru-baru ini telah mengundang ahli pornografi internet Mary Sharpe untuk mengatasi para siswa yang kecanduan film porno hingga akhir tahun ini.

Ms Sharpe adalah seorang pengacara dan pendiri The Reward Foundation, yang mempromosikan hubungan yang sehat dan telah berbicara kepada ribuan remaja terkait dampak negatif dari kecanduan film porno. Selain itu, dia juga pernah memberikan kelas di George Heriot’s School, Edinburgh dan Dolar Academy di Stirling, Skotlandia.

“Sekolah-sekolah ini menyadari bahwa efek hardcore pornografi dapat merusak para siswa, seperti rusaknya kesehatan mental dan pendidikan mereka,” kata Ms Sharpe The Sunday Times.

Hardcore pornography yang dimaksud Ms Sharpe merupakan visualisasi (gambar atau video) yang memperlihatkan seluruh anggota badan manusia termasuk alat genitalnya bahkan memperlihatkan aktivitas senggama antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu disebutkan pula bahwa dalam sebuah studi sebelumnya ditemukan orang yang kecanduan pornografi menunjukkan aktivitas otak yang mirip dengan pecandu alkohol (alkoholic) atau pecandu narkoba (junkeis).

Dalam pada itu, Pemerintah setempat juga telah mengumumkan rencana untuk verifikasi usia di website porno yang direncanakan akan diberlakukan sejak tahun 2017 mendatang. Jika ada pemilik situs dewasa yang melanggar maka akan didenda hingga £ 250.000 jika mereka tidak memeriksa usia orang. (Leman/Riskiana)

Komentar