Ilustrasi area bawah perut wanita yang bersih/Foto Nusantaranews via doktercantik
Ilustrasi area bawah perut wanita yang bersih/Foto Nusantaranews via doktercantik
Ilustrasi area bawah perut wanita yang bersih/Foto Nusantaranews via doktercantik
Ilustrasi area bawah perut wanita yang bersih/Foto Nusantaranews via doktercantik

NUSANTARANEWS.CO – Penelitian terbaru menunjukkan bahwa para wanita yang mencukur rambut di sekitar alat vital mengalami peningkatan. Kebanyakan dari mereka percaya bahwa mencukur rambut kemaluan adalah perbuatan yang “lebih higienis”, walaupun hal itu bertentangan dengan nasehat para ahli medis.

Peningkatan angka wanita yang melakukan hal yang dianggap “lebih higienis” ini didorong oleh penelitian sebelumnya yang menyarankan para wanita supaya mencukur habis rambut kamaluan demi kepentingan hubungan seksual. Nah, dalam peneletian terbaru mengindikasikan banyak dari mereka yang memikirkan kegagalan untuk melakukannya, sehingga menimbulkan resiko bagi kesehatan.

Akan tetapi bukti ilmiah justru sebaliknya sebagaimana yang telah dihimbaukan oleh para ahli medis. Dalam hal ini, salah seorang anggota Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, Dokter Vanessa Mackay, mengatakan bahwa rambut kemaluan perempuan sangat penting bagi miss V supaya tercegah dari masuknya patogen atau mikroorganisme parasit. Patogen secara harfiah berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti penyebab penderitaan. Sederhananya, patogen adalah salah satu jenis bakteri yang menjadi sumber penderitaan. Patogen bekerja dengan cara menginfeksi organisme yang menyebabkan munculnya gejala-gejala abnormal. Sebagian dari patogen memang tidak terasa di tubuh, namun tak jarang dapat menyebabkan penyakit HIV, SARS, Flu Burung dan lain sebagainya.

Menurut Dokter Mackay fungsi rambut kemaluan adalah pencegah alami untuk menjaga miss V tetap terperilihara kebersihannya. Selain itu, lanjutnya, rambut kemaluan juga berfungsi untuk mengurangi kontak miss V dengan beragam virus maupun bakteri dan tentu saja supaya kulit lembut di area miss V senantiasa terlindungi.

“Sementara melindungi (area Miss V – red) dari penyakit dan masalah kulit, rambut kemaluan juga mencegah masuknya partikel asing seperti debu dan bakteri patogen ke dalam tubuh. Rambut kemaluan pun dapat membantu untuk mengontrol kelembaban dari daerah yang menurunkan kemungkinan infeksi ragi (yakni jamur yang secara ilmiah disebuat sebagai Candida yang umumnya hadir pada kulit manusia yang normal dan pada area-area yang lembab, seperti mulut dan vagina – red),”  terangnya seperti dikutip The Independent, Kamis (30/6) waktu setempat.

Jurnal JAMA Dermatology of American Medical Association baru-baru ini mempublikasikan sebuat studi terbaru yang menunjukkan bahwa, mayoritas wanita dari segala usia “pernikahan” memiliki rambut kemaluan sampai pada taraf tertentu.

Respon para wanita Amerika Serikat yang dijadikan dijadikan objek penelitian, ternyata sebanyak 60% menjawab lebih memilih mencukur bersih rambut kemaluan merekan. Sedangkan 84% mengaku mereka melakukan beberapa jenis perawatan atau Trimming (pengeprisan) yakni sebuah proses/kegiatan pemotongan/penghilangan bagian-bagian yang tidak dikehendaki pada bahan, khususnya di area Miss V.

Dan para wanita remaja kulit putih yang berada di bangu kulian rupanya terbilang lebih mungkin untuk mencukur atau lilin (wax/waxing) alias sebuah cara yang semi permanen untuk menghilangkan rambut kemaluan dengan tidak hanya menghilangkan bagian ujung rambut kemaluan saja, namun juga sampai ke akar-akarnya. Dengan sebuah persentase ternyata yang melakukannya rata-rata berusisa atara 18 dan 34 tahun.

Sementara itu, para ahli medis menerangkan bahwa rambut kemaluan memiliki fungsi aksi sebagai pembalut lembut alami untuk kulit sensitif dari labia (gambaran empat bibir seperti lipatan kulit yang membentuk vagina) dan vagina itu sendiri.

Sedangkan celana dalam yang gagal melindungi daerah Miss V, bisa menyebabkan rasa sakit tertentu bahkan bikin lecet pada bagian genital wanita. Komplikasi lain yang mungkin bisa terjadi adalah infeksi vagina dan vulva, radang folikel rambut, abses, luka dan reaksi alergi.

Bagi Dokter Mackay “luka” kecil oleh alat cukur, yang bersamaan dengan kondisi hangat dan lembad di daerah genital wanita, dapat menciptakan “happy culture medium” bagi bakteri untuk tumbuh dari dalam.

“Jika Anda mencukur rambut kemaluan, berarti Anda menempatkan diri pada risiko besar yaitu tertular penyakuit kutil kelamin. Kendati rambut kemaluan tidak sepenuhnya dapat mencehah penyakit kutil, setidaknya rambut kemaluan Anda dapat menghindarkan bagian genital Anda dari kulit pasangan Anda yang mungkin sudah memiliki penyakit kutil kelamin. Di samping itu, menghapus rambut kemaluan juga dapat mengiritasi dan bisa meradangkan folikel rambut yang tertinggal yaitu bengkak luka mikroskopis (luka yang hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop),” simpul Dokter Mackay dalam keterangan seperti dilansir independent. (MRH/SS/JS/Independent)

Komentar