Santoso alias Abu Wardah/Foto: Istimewa
Santoso alias Abu Wardah/Foto: Istimewa
Santoso alias Abu Wardah/Foto: Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Salah satu pekerjaan rumah Kapolri baru Tito Karnavian adalah menuntaskan gembong teroris Santoso di Poso yang tak kunjung diringkus oleh pihak Kepolisian. Malah, Santoso yang juga disebut-sebut sosok pelaku kriminal murni itu hingga kini masih bebas berkeliaran di Kabupaten Poso. Ia juga diklaim bersembunyi di hutan bersama para pengikutnya.

Berlarut-larutnya penuntasan Santoso dikhawatirkan salah satu tokoh muda Poso, Rizal C Marimbo yang dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nusantaranews di Jakarta, menyebutkan bahwa Santoso merupakan bukti pemerintah pusat sedang menebar benih-benih separatisme di Kabupaten Poso.

Ia mengatakan, jujur saja ini sama saja pemerintah pusat sengaja menebar kekecewaan kepada masyarakat Poso kepada negara, kata dia. Di akar rumput, kata dia, masyarakat Poso mulai timbul kekecewaan yang cukup berat kepada negara dan pemerintah atas berlarutnya kasus perburuan Santoso dkk.

Dikatakannya lebih lanjut, Santoso telah membuat gangguan keamanan di Poso, sehingga Kapolri Tito sebaiknya segera menuntaskan perburuan sang teroris sekaligus sebagai momen menegaskan kepemimpinan Kapolri baru itu. Bukankah Tito terkenal mampu mengatasi persoalan terorisme pada masa karirnya selama ini? Dari kandungan konflik dan gangguan keamanan di Poso sejak 1998 telah melahirkan dua Kapolri dan satu Wakapolri. Ketiganya pernah bertugas menangani gangguan keamanan di Poso. Mantan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pernah menjadi Kapolda Sulawesi Tengah. Begitu juga dengan mantan Wakapolri Komjen Oegroseno yang pernah menjabat Kapolda Sulawesi Tengah. Kapolri Tito pernah ditugaskan menangangi banyak kasus aksi terorisme di sana. Sebab itu, sudah sepantasnya negara segera menyelesaikan kasus Santoso secepatnya. “Sudah lima tahun lebih Santoso masih awet di hutan, ada apa?” cetus dia.

“Tapi kalau masih tunggu satu atau dua tahun lagi, maka warga Poso perlu melakukan perhitungan kepada negara dan penguasa republik ini. Berlarut-larutnya masalah Santoso sebenarnya menimbulkan banyak tanda tanya. Kenapa negara seakan-akan tidak berdaya di hadapan Santoso cs? Jangan sampai kami marah besar terhadap republik ini,” kata dia.

“Kakek-nenek kami mengusir Belanda. Demi NKRI rakyat Poso pernah berperang melawan DI-TII di hutan-hutan dari Sulawesi Selatan. Kami melawan pemberontak Permesta dari Sulawesi Utara. Kami di tengah-tengah Pulau Sulawesi tetap setia kepada NKRI. Namun, sudah lima tahun lebih Santoso belum juga selesai, ada apa dengan republik ini?” sambung Rizal. (sego/red)

Artikel terkait: 11 Program Prioritas Tito di Polri

Komentar