Komandan Densus 99 Banser Nuruzzaman usai Seminar Kebangsaan:
Komandan Densus 99 Banser Nuruzzaman usai Seminar Kebangsaan: "Pembubaran HTI dan Amanat Konstitusi Kita", di Aula PBNU, Senin, 10 Juli 2017. Foto Achmad Sulaiman/ NUSANTARANEWS.CO

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Merebaknya isu-isu radikalisme agama di Indonesia menjadi salah satu pendorong Presiden Joko Widodo untuk meneken Perppu tentang Pembubaran Organisasi Masyarakat yang dinilai radikal dan anti pancasila.

Menyangkut radikalisme agama, Komandan Densus 99 Satkornas Banser Nuruzzaman mengatakan bersama GP Ansor telah melakukan sekian gerakan pemantauan terhadap aktivitas ormas yang dianggap radikal salah satunya HTI.

Tentang radikalisme agama, kata Nuruzzaman, banyak orang yang keliru memahami terkait cara merekrut orang-orang untuk dibentuk menjadi radikal. Rekrutmen tidak mereka lakukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.

“Contohnya insiden penusukan dua anggota Brimod di masjid Fatahillah. Itu (pelakunya) adalah orang-orang yang teradikalisasi di dunia maya. Dia tidak punya jaringan teroris. Dia hanya terpengaruh oleh apa yang dia baca di medsos seperti facebook, twitter, atau YouTube. Kemudian dia mengambi senjata dan melakukan serangan sendiri,” tutur Nuruzzaman beberapa waktu di hadapan para wartawan.

Gerakan ekstrem mereka lakukan, lanjutnya, lantaran ada seruan yang dilakukan oleh pemimpin (amir) mereka yang menyatakan, “semua simpatisan ISIS di seluruh dunia untuk melakukan pembunuhan terhadap Toghut dengan cara apapun, dengan senjata apapun.” Itu semua terjadi melalui media sosial.

“Maka, kami Ansor-Benaser berkepentingan untuk memantau dengan melakukan monitoring terhadap akun-akun medsos dan website yang menyebarkan kebencian dan lain-lain,” kata Kandensus 99 Banser itu.

Tak hanya di media sosial, Densus 99 Banser juga memiliki memiliki tim pencari data dan fakta di daerah-daerah. Hal itu didukung oleh jumlah Ansor-Banser di seluruh Indonesia yang mencapai 7 juta orang lebih.

“Mereka memberikan informasi ke pusat jika ada sesuatu yang bermasalah di daerahnya. Misalnya di Marawi, ketika ada masalah, Banser yang bertugas menjaga disana. Karena tentara dan polisi tidak bisa menggunakan bahasa lokal, tidak tahu mana ISIS yang masuk Marawi ke Indonesia. Maka, Banser-Ansor lokal lah yang menjadi mata-mata di sana. Ada beberapa orang yang diusir kembali ke Filipina,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tentara dan polisi rata-rata bukan orang lokal di sana. Kemudian Banser-Ansor mendampingi dan memberikan informasi. “Jadi itu, yang dilakukan. Kita menyiapkan informasi di semua tempat. Tentu tidak seperti informan lain milik negara, jadi tidak terlalu dalam, melainkan hanya informasi di permukaan,” tandasnya.

Pewarta/Editor: Achmad Sulaiman

Komentar