Kampung halaman. (Ilustrasi/Foto: Nusantaranews/Eriec Dieda)

Hampir sebulan kita sudah kembali ke rutinitas kerja pasca lebaran kemarin. Ramai, polusi udara, macet, dan orang-orang yang super sibuk yang menjadi ciri khas kota besar layaknya Jakarta sudah kita nikmati. Namun ada persoalan yang belum selesai yang masih menggerogoti sendi sosial kita, yakni kekerasan dan teror yang belakangan ini mengemuka.

Sejatinya bila kita memutar balik kenangan Idul Fitri bahwa mudik lebaran kemarin tidak semata-mata pulang ke kampung halaman dan silaturrahim ke sanak keluarga di desa. Kalau kita jeli rutinitas tersebut dapat dimaknai sebagai momentum ngecas semangat kita untuk giat bekerja dan menjaga etos silaturrahim. Apa etos silaturrahim? Yakni saling memaafkan, tepa selira, tenggang rasa, dan saling menghargai eksistensi masing-masing. Hemat penulis, pulang ke kampung halaman kemarin tidak sekadar lari dari realitas kejumudan bekerja, tapi juga menjaga kerukunan tetap terjaga.

Ada dua semangat yang dapat kita tarik kembali ke dalam diri pasca liburan lebaran. Pertama menumbuhkan semangat bekerja, dan kedua semangat saling menjaga dan tidak saling sandera. Jika kita jeli menafsiri kampung halaman misalnya, dapat menjadi titik balik (entry point) bagi kita untuk selalu semangat bekerja dan tidak saling sandera. Mereka yang cenderung berpikir positif menjadikan kampung halaman sebagai pemicu semangat untuk lebih giat bekerja. Dan selanjutnya ketika tiba di tanah rantau menjaga semangat bersama rekan kerja. Jika hal tersebut dipupuk niscaya tidak akan ada dusta di antara kita, konflik mengemuka, dan kekerasan merajalela. Saling menjaga dan tidak saling sandera, mengutip Lewis A. Coser, dapat menjadi katup penyelamat (savety velve) kerentanan sosial.

Internalisasi kesadaran dumadi
Ke mana pun elang terbang, pulangnya ke paraduan jua. Seperti halnya kita, ke mana pun kita pergi akhirnya akan rindu pada tempat asal. Akan kembali ke kampung halaman. Atau paling tidak membawa semangat kampung halaman sehingga masing-masing diri kita sudah ada kampung halaman dengan sederet keindahannya. Setiap orang yang merantau ke mana pun saja tidak akan lepas dari kampung halaman. Semangat kampung halaman yang perlu kita tanamkan di dada kita masing-masing, mengutip pepatah Jawa sangkan paraning dumadi.

Sangkan paraning dumadi atau tafsiran bebasnya dari mana dan mau ke mana hidup kita dibawa, merupakan pijakan sosio-spiritual seseorang dalam mencapai kassampuraning dumadi (kesempurnaan hidup). Inilah yang perlu kita tanamkan di benak dan hati kita bahwa setiap manusia dari mana pun asalnya harus menghidupkan kesadaran dumadi atau kesadaran sebagai manusia berakal yang dapat membedakan mana yang baik dan yang tidak baik.

Dalam karekteristik kebudayaan Jawa, tempat asal serta nenek moyang merupakan kembali seluruh kepentingan hidup seseorang. Untuk mencapai kessampuraning dumadi biasanya masyarakat Jawa (kejawen) menempatkan asal muasal dan nenek moyang sebagai punakawan, yaitu sebagai pengemong anak-anak dan keturunannya.

Penghormatan terhadap hidup dan tempat muasal hingga saat ini masih sangat releven sebagai tempat kembali seseorang setelah lama bertautan dengan kepentingan diri sendiri. Nilai yang terkandung dalam hakikat dumadi ialah menghormati, menghargai, mengayomi, mendidik, serta memberikan cahaya terang kebaikan kepada lingkungan sosialnya. Sebagaimana yang terkandung dalam diri Harjuna dalam hikayat wayang Purwa. Semangat ini tentu dapat menjadi penambah jiwa, pikiran, dan kondisi kehidupan. Kita sebagai manusia perantau layaknya batrai handphone harus dicas. Nah, cas paling baik untuk kita ialah menyerap semangat kampung halaman ke dalam kehidupan kerja dan kehidupan sosial kita.

Altruisme
Kembali ke kampung halaman, walau hanya sejenak, tidak hanya menjadi ajang mempertaruhkan egosentrisme semata. Tidak dapat dipungkiri bahwa kini sebagian orang yang lama mempertaruhkan hidup di tanah rantau sebagai masyarakat urban dan pekerja tidak banyak memberikan manfaat terhadap kampung halamannya, kecuali menambah pundi-pundi kekayaan yang sayangnya dijadikan ajang pamer ke sana ke mari.

Setelah mudik cukup lama para perantau sejak minggu ini telah berjalin satu sama lain. Ada yang mengadakan halal bi halal atau acara silaturrahim. Kalau kita dapat memaknai kampung halaman tidak hanya sebagai tempat kembali, tapi juga sebagai tempat menempa diri. Acara mudik, berkumpul bersama keluarga, silaturrahim ke sanak keluarga, balik ke tempat kerja, dan bersosialisasi lagi dengan rekan kerja merupakan esensi dari pertautan nilai dan kearifan dumadi yang dapat kita tempa dalam hidup kita masing-masing.

Jika kita menyadari kearifan dumadi, kita tidak akan menyandera kepentingan orang lain, tidak korupsi, tidak berperilaku kriminil, tidak culas dalam berdagang, tidak menipu, dan hal negatif lainnya. Jika kita mampu menginternalisasi semangat dumadi maka akan mudah menjumpai kebaikan-kebaikan, baik di jalanan, trotoar, jembatan, kampus, hingga di gedung pencakar langit.

Seyogyanya sebagai masyarakat yang memiliki akar kehidupan, kita melakukan rutinitas juga ikut memberikan sesuatu berharga bagi lingkungan sosial kita. Paling tidak kita dapat mengambil kearifan kampung halaman sebagai pelita hidup sehari-hari (supraba).

Menempatkan altruisme dalam diri adalah bentuk kearifan mendasar pengorbanan seseorang demi kepentingan khalayak atau orang lain. Mudik, lebaran, kembali ke tempat kerja, halal bi halal, dan silaturrahim mengajarkan sifat altruisme kepada diri kita. Semangat tersebut mengedepankan kepentingan orang lain yang lebih bermanfaat daripada kepentingan diri sendiri yang kurang bermanfaat.

Penulis: Nur Faizin Darain, Korwil Madura Densus 26 (Pendidikan Da’i Khusus Ahlussunnah Wal Jamaah 1926) dan Pengurus Pusat GP Ansor

Komentar

SHARE