Skuad Timnas Garuda Sapa Suporter. Foto via viva
Skuad Timnas Garuda Sapa Suporter. Foto via viva/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Memar pilu masih membekas dalam benak Tim Nasional (Timnas) dan para pendukung atas kegagalan Indonesia untuk meraih kemenangan di laga Piala AFF. Indonesia gagal kelima kalinya dalam laga final Piala AFF, sementara sebaliknya Thailand untuk kelima kalinya menjadi juara turnamen sepakbola Asia Tenggara ini.

Dalam laga kedua final AFF 2016 di Bangkok, Thailand mengalahkan Indonesia 2-0 melalui dua gol Siroch Chatthong di menit ke 37 dan 47.

Di laga pertama di Stadion Pakansari, Bogor tiga hari sebelumnya, Indonesia unggul 2-1, namun di final leg kedua Indonesia secara agregat kalah 2-3, sehingga Piala AFF dipertahankan Thailand yang dua tahun lal direbut dari tangan Malaysia.

Timnas Garuda harus mengakui, ini kemenangan yang pantas bagi Thailand, yang terus mengurung Indonesia, nyaris selama 90 menit. Tim Garuda Merah Putih hanya bisa sesekali menyerang balik -dengan tiga tembakan yang tak ada satupun mengarah ke gawang.

Indonesia bisa mengalami kekalahan lebih besar lagi, jika saja kiper Kurnia Meiga Hermansyah tak melakukan sejumlah penyelamatan gemilang disarangnya.

Puncaknya ketika Kurnia Meiga mengagalkan penalti Teerasil Dangda di menit ke 81. Diketahui, Teerasil Dangda adalah pencetak gol terbanyak di laga turnamen AFF ini dengan enam gol -empat di antaranya ke gawang Kurnia, namun tidak di final leg kedua ini.

Sayangnya, kekalahan ini membuat Indonesia untuk kelima kalinya meninggalkan final Piala AFF tanpa membawa piala, hal ini menyebabkan munculnya sebutan ‘spesialis runner up’ dari kalangan haters. Sedangkan pada pelatih timnas Indonesia, Alfred Riedl, ini merupakan kegagalan yang ketiga kalinya di final AFF -dua kali bersama Indoensia dan sekali bersama Vietnam. Saat menangani Vietnam, Riedl juga sekali gagal di final King’s Kup dan tiga kali gagal di final Sea Games.

Ini kemenangan yang pantas bagi Thailand. Juga bukan hasil yang buruk bagi Indonesia. Tak ada yang menyangka Indonesia bisa lolos ke final setelah mendapat sanksi pembekuan dari FIFA.

Harus diakui, kalah lima kali di final tanpa pernah menang satu kali pun, sungguh memilukan kredibilitas dan juga moral. Tetapi perlu diakui, ini tim muda yang menjanjikan.

Para pemain tim Indonesia masih bisa berbangga, bisa melaju ke final dan memenangkan laga pertama walaupun tak bisa membawa pulang piala.

Kartu Merah Abduh Lestaluhu

Pemain belakang tim nasional Indonesia, Abduh Lestaluhu harus diganjar kartu merah dalam pertandingan leg kedua partai final Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/12). Dalam pertandingan yang dimenangkan oleh Thailand dengan skor 2-0 tersebut, Abduh yang merupakan pemain asal PS TNI itu diusir keluar lapangan usai menendang bola dengan keras ke arah bangku cadangan pemain Thailand.

Dalam pengakuannya, Abduh mengatakan naik pitam karena tersulut ulah provokasi pemain Thailand yang mengulur-ngulur waktu karena mereka telah unggul 2-0. Terlebih, hal itu dilakukan di menit-menit akhir pertandingan. Padahal timnas tengah berjuang marti-matian untuk mengejar ketinggalan mencetak gol sehingga agregat dapat menjadi 3-3, dan dapat memaksa Thailand untuk memainkan perpanjangan waktu.

“Jadi pas saya pas bola out saya mau ambil bola tapi bolanya malah dipegang terus dilempar ke belakang lagi, dimainin-mainin gitu. Jadi saya balik ke wasit. Saya bilang ‘wasit ini nggak fair’. Saya balik mereka sudah lempar atau minta bola. Ya saya sudah tendang lagi ke mereka,” kata Lestaluhu.

Abduh pun mengaku pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl maupun Ketua Umum PSSI Letjen TNI Edy Rahmayadi tak sedikitpun kecewa dengan aksinya itu meski harus dihadiahi kartu merah yang menodai pertandingan. Mereka mendukung dan dapat memahami kenapa dirinya mendapatkan kartu merah.

“Mereka sangat mendukung apa yang saya lakukan, kata mereka bagus karena kan posisinya kita lagi ketinggalan, kita pengen mengejar gol jadi saya rasa dari pelatih sama dari PSSI mereka support saya, mendukung saya,” ucap Lestaluhu. (Andika)

Komentar