Berita Utama

Kaleidoskop 2016: Adu Sakti Jusuf Kalla dan Luhut Binsar Pandjaitan di Munaslub Golkar

Jusuf Kalla dan Luhut Binsar Pandjaitan di Munaslub Golkar/FOto: Dok. kabaroke.com
Jusuf Kalla dan Luhut Binsar Pandjaitan di Munaslub Golkar/FOto: Dok. kabaroke.com

NUSANTARANEWS.CO – Ada sebuah peristiwa hebat di kancah perpolitikan nasional pada tahun 2016, khususnya di internal partai Golongan Karya (Golkar). Peristiwa yang dimaksud adalah terpilihnya Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar periode 2016-2019 dalam forum Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bali Nusa Dua Convention Center, Selasa (17/5) lalu. Drama pemilihan calon ketum Golkar kala itu melibatkan dua nama, yakni Setya Novanto dan Ade Komarudin.

Dalam voting, Setya Novanto memperoleh 277 suara. Sementara Ade Komarudin memperoleh 173 suara. Keduanya  memenuhi 30% suara untuk menjadi calon ketum Golkar dan melanjutkan voting putaran kedua.

Sebelum voting putaran kedua dilaksanakan, Ade Komarudin justru mengundurkan diri dan mengikhlaskan kursi kepemimpinan Golkar kepada Setya Novanto.

Persaingan Setya Novanto dan Ade Komarudin di Munaslub Golkar memang tampak tak begitu sengit. Desas desus yang berkembang, persaingan kedua calon waktu itu sebetulnya sengit, tetapi tak begitu tampak. Sebab, masing-masing calon sama-sama dijagokan.

Kabarnya, Setya Novanto dijagokan Luhut Binsar Pandjaitan, sedangkan Ade Komarudin dijagokan Jusuf Kalla. Sementara itu, ketum Golkar sebelumnya, Aburizal Bakrie dalam sejumlah statemen di media tampak lebih bersikap diplomatis.

Lebih dari itu, secara diam-diam Presiden Jokowi juga diisukan mendukung Setya Novanto. Ini ada kaitannya dengan kepentingan Jokowi yang membutuhkan kendaraan politik untuk kembali maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2019 mendatang.

Jokowi disebut berharap besar Golkar tampil sebagai partai utama yang mengusung dirinya. Karuan saja, hasil Rapimnas Partai Golkar yang dilaksanakan pada 27 Juli 2016 menghasilkan keputusan bersama bahwa partai berlambang pohon beringin resmi mengusung Jokowi pada 2019 mendatang.

“Ada satu hal yang penting dalam rancangan dalam Rapim ini adalah akan dikukuhkan untuk menetapkan akan mengusung Pak Jokowi di 2019,” ujar politisi Golkar, Zainudin Amali di Senayan, Jakarta, Jumat (22/7) lalu.

Tak hanya Zainudin Amali, penegasan bahwa Golkar akan mengusung Jokowi juga disampaikan politisi Golkar lainnya, Tantowi Yahya.

“Ini amanat Rapimnas Januari lalu, dan juga penguatan formalisasi dukungan kepada bapak Jokowi dalam Pemilu 2019,” tegas Tantowi di Jakarta, Jumat (22/7).

Tak hanya resmi menjadi kendaraan politik Jokowi, Golkar di bawah kepemimpinan Setya Novanto juga disebut-sebut untuk kepentingan memberikan dukungan kepada Basuki Tjahaja Purna di Pilgub DKI Jakarta 2017. Alhasil, DPP Partai Golkar menyatakan dukungannya kepada Basuki pada Jumat (24/6) lalu.

Usai resmi menyatakan dukungan kepada Basuki, misi Setya Novanto selanjutnya adalah duduk kembali sebagai pimpinan DPR. Dengan dalih hendak memperbaiki citra diri di DPR usai tersandung skandal “Papa Minta Saham”, Setya sukses memuluskan ambisinya untuk melanggeng ke kursi pimpinan DPR RI pada Rabu (30/11).

Kursi yang sebelumnya diduduki Ade Komarudin (Akom) kini sudah jatuh ke tangan Setya. Jauh di hati terdalam Akom, kecewa dengan keputusan DPP Golkar ini. Dan dengan berat hati, Akom mengaku ikhlas.

Majunya Setya ke kursi pimpinan DPR menggantikan Akom menuai kritikan tajam dari internal Golkar.

“Saya dapat info, bahwa pergantian ini juga atas petunjuk Jokowi. Kalau memang info itu benar, artinya Golkar sudah menjadi alat kepentingan Jokowi yang terakhir ini tidak bisa dilepaskan dengan isu Ahok dan kekuatan di belakangnya,” cetus politisi muda Golkar, Ahmad Doli Kurnia di Jakarta, Selasa (22/11). (Sego/Er)

Komentar

To Top