Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno di Gedung Smesco Jakarta, Selasa (27/9/2016)/Foto Andika/Nusantaranews
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno di Gedung Smesco Jakarta, Selasa (27/9/2016)/Foto Andika/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Ekspor merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, ekspor Indonesia saat ini sulit diandalkan karena melemahnya perekonomian global dan menurunnya permintaan.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) membongkar lima strategi untuk mengakselerasi peningkatan ekspor Indonesia sebesar 500 persen pada 2025-2030 mendatang. Kinerja ekspor diharapkan tak lagi bergantung pada sumber daya alam.

“Peningkatan ekspor Indonesia melalui lima pilar utama strategi, yaitu penambahan jumlah eksportir, diversifikasi produk ekspor, pengembangan pasar ekspor, peningkatan harga ekspor, dan pengembangan ekosistem ekspor,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno di Gedung Smesco Jakarta, Selasa (27/9/2016).

Benny mengatakan, peningkatan ekspor hingga 500 persen diharapkan dapat tercapai dalam 10-15 tahun dengan perkiraan nilai ekspor dari USD 150 miliar pada 2016 menjadi USD 750 miliar pada 2025-2030.

Kadin mencatat, nilai ekspor Indonesia pada Januari-Agustus 2016 sebesar USD 91,73 miliar menurun 10,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Akan tetapi, volume ekspor hanya menurun sebesar 3,39 persen yang artinya terjadi penurunan jauh lebih besar pada harga rata-rata ekspor.

Volume ekspor migas di Indonesia justru mengalami kenaikan 0,33 persen pada periode tersebut di saat nilai ekspor turun 33,38 persen sehingga dapat disimpulkan penurunan nilai ekspor migas disebabkan penurunan harga rata-rata ekspor.

Benny menjelaskan ekspor non migas, khusus industri manufaktur perlu dikembangkan lebih intensif untuk mengembangkan ekspor Indonesia di masa mendatang. Menurut dia, pelaku ekspor menjadi kontributor utama dalam pencapaian ekspor 500 persen, namun saat ini jumlah eksportir menurun akibat memburuknya perekonomian dunia sehingga banyak pelaku usaha termasuk eksportir yang tidak mampu bersaing.

Benny mendorong penambahan jumlah eksportir, baik dari perusahaan yang sudah beroperasi maupun calon wirausaha baru untuk menjalankan usaha bisnis ekspor.

Oleh karena itu, Kadin Indonesia akan menggelar Konferensi Perdagangan Nasional 2016 dengan tema “Trade and Export for All” untuk mencetak seribu eksportir baru dari kalangan perguruan tinggi dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Kita perlu mengajak kalangan perguruan tinggi berwawasan global dalam rangka menciptakan ekosistem yang mendukung ekspor dan mencetak SDM berkompetensi tinggi untuk bekerja di perusahaan-perusahaan internasional asal Indonesia di mancanegara,” ujar Benny. (Andika)

Komentar