solar colony di Jerman | Thinkstock
solar colony di Jerman | Thinkstock

NUSANTARANEWS.CO – Jerman dan Norwegia bisa disebut sebagai dua negara yang paling siap menghadapi tatanan dunia baru dalam hal penggunaan energi listrik sebagai pengganti bahan bakar minyak yang dinilai sudah tak lagi ramah lingkungan. Ketidakmenentuan harga minyak dunia, dan cenderung mahal membuat energi alternatif menjadi pilihan utama sebagai pembangkit, terutama untuk kendaraan bermotor.

Selain itu, langkah maju ini juga merupakan keseriusan Jerman dan Norwegia menerapkan perjanjian Konferensi Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh PBB di Paris tahun lalu. Dalam konferensi tersebut, salah satu poin yang dimuat ialah kesepakatan untuk melarang mobil-mobil bermesin bensin dan diesel beredar di wilayah mereka pada tahun 2050 mendatang.

Tujuannya adalah untuk untuk mempercepat pemulihan kondisi lingkungan dan menggalakkan gaya hidup yang ramah lingkungan, utamanya di sektor transportasi. Untuk kendaraan penumpang, akan dianjurkan pemakaian mobil-mobil berbahan bakar alternatif seperti mobil listrik, mobil hidrogen, fuel cell, tenaga surya, dan energi terbarukan lainnya.

Menindak lanjuti kesepakatan itu, Jerman bertekad menjadi negara pelopor yang akan menerapkan peraturan ketat dalam penggunaan kendaraan bermotor. Setidaknya pada 2030, semua mobil yang dijual di Jerman harus bebas emisi. Pemerintah Jerman berjanji akan memangkas keluaran karbondioksida 80 hingga 90 persen pada 2050. Namun, hal itu akan sia-sia jika pemerintah Jerman tidak membatasinya penggunaan kendaraan bermotor yang berpolusi.

Biasanya mobil memiliki umur maksimal 20 tahun. Artinya, penjualan mobil bermesin bensin atau mesin diesel harus dihentikan 15 tahun ke depan. Pemerintah Jerman mendukung penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Kanselir Jerman, Angela Merkel berjanji memberikan subsidi untuk mempercepat penjualan mobil listrik mulai tahun 2016.

Saat ini, penjualan mobil listrik di Jerman masih kecil. Menurut otoritas registrasi kendaraan Jerman, hanya sekitar 130 ribu mobil plug-in hybrid dan 25.000 mobil listrik yang terdaftar di Jerman pada Januari lalu. Padahal, mobil bermesin bensin tercatat sebanyak 30 juta unit dan mobil diesel sebanyak 14,5 juta unit.

Norwegia tak kalah siap. Negara yang dipimpin Perdana Menteri Erna Solberg ini menjadi salah satu negara yang memiliki ambisi besar untuk menjual mobil-mobil bertenaga listrik, hidrogen atau hybrid plug-in adalah Norwegia. Bahkan, pada tahun 2025 Norwegia hanya akan menjual mobil-mobil bertenaga listrik dan hidrogen.

otoritas Norwegia mendorong keberadaan kendaraan emisi rendah dan akan terus memberikan insentif baru agar masyarakat mau menggunakan mobil yang semakin ramah lingkungan.

Informasi terbaru menyebutkan bahwa saat ini sudah ada beberapa insentif untuk kendaraan nol emisi, termasuk akses jalur bus, pajak lebih rendah, parkir gratis di kota dan bebas biaya tol atau feri. Disebutkan pula bahwa pada tahun 2015, kendaraan listrik menduduki pangsa pasar 22 persen di Norwegia dan diperkirakan tumbuh menjadi 30 persen pada 2020.

Karena itu, untuk mewujudkannya, pemerintah Norwegia telah meluncurkan progam untuk membiayai pemasangan setidaknya dua stasiun pengisian daya cepat dalam jarak 50 kilometer pada akhir 2017. Bahkan pada tahun 2020, Norwegia berharap untuk memiliki satu titik pengisian daya untuk setiap 10 mobil listrik, yang berarti sekitar 25.000 pengisian jika penjualan kendaraan tersebut mencapai 250.000 unit pada akhir dekade ini.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar