Berita Utama

Jenderal dan Koruptor Insyaf – Puisi Jose Rizal Manua

Jenderal Soedirman/Foto: IST
Jenderal Soedirman/Foto: IST

JENDERAL

Kepada Jenderal Soedirman

Jenderal,
Bayangmu meruang
Dalam semangat juang
Semangat juangmu, mewaktu
Dalam setiap kalbu

Jakarta, 11 September 2016.

DI SUATU MALAM
DI SEBUAH TIKUNGAN

Di suatu siang,
Di sebuah warung makan,
Seekor kucing berjongkok di bawah meja
Mengharap belas kasihan
Di atas meja terhidang ikan pesanan
Yang oleh seseorang disantap dengan lahap
Kucing itu hanya memandang dan memandang
Seseorang yang belum kenyang merasa terganggu
Di pandang serupa itu
Ditendangnya kucing itu
Dengan kakinya yang panjang hingga terjengkang
Dengan menahan rasa sakit
Kucing itu hengkang ke sudut gang
Di mana lima anak-anaknya menunggu
Mengeong girang minta menyusu
Belakangan aku kenal itu orang
Angkuhnya bukan kepalang
Di suatu malam,
Di sebuah tikungan jalan
Mobilnya yang ngebut kencang, terjengkang
Sehingga seumur hidupnya dia pincang.
Mungkin kucing yang di tendangnya tempo hari
Tiba-tiba, dilihatnya, duduk menghadang

Jakarta, 11 September 2016

KORUPTOR INSYAF

Setelah bergelimang harta benda
Dan setiap malam berpesta pora
Menghambur-hamburkan waktu
Tak menentu
Membuang-buang tenaga
Tanpa guna
Akhirnya koruptor itu insyaf.

Menjelang kejahatannya
Diendus KPK
Ia menyerahkan diri ke kantor polisi.
Kepada komandan jaga
Dikatakannya:
“Pak Polisi, saya koruptor,
tolong saya ditangkap. Saya sudah
tidak tahan hidup diburu teror-teror.”

Di realestat sepanjang hari istri tuanya
Menuntut dibelikan kebun anggrek.
Di realestat yang lain sepanjang hari istri mudanya
Menuntut dibelikan kapal pesiar.
Di kondominium yang megah
Istri sirinya sepanjang hari cemburu.
Menuntut tukar guling
Antara kebun sawit warisan
Dengan perdagangan batubara idaman.

Ketika sang koruptor memberikan alasan
Mengapa ia tidak memenuhi tuntutan.
Adalah karena segala gerak-geriknya
Sudah tercium KPK.
Ketiga istri tidak percaya karena suami
Selalu mengulang kebohongan yang sama.
Karena tuntutan mereka tidak dikabulkan.
Ketiga istri malah curiga
Sang suami mempunyai madu lagi.

Ketiga istri sama mengancam
Akan melaporkan kejahatan suami kepada polisi.
Suami yang belakangan disergap
Penyakit jantung, lemah syahwat, dan darah tinggi
Balas mengancam
Akan menyerahkan diri kepada polisi.
Dan setelah masuk penjara ia akan menyaksikan
KPK akan menyita semua harta mereka.
Ketika ketiga istri datang melapor
Sang suami sudah mengenakan borgol.

Ancaman masing-masing memang terkabulkan
Sang koruptor masuk penjara.
Ketiga istri hidup terlunta
Menjadi peminta-minta di jalan raya.
Setelah Polisi menangkapnya
Dan KPK menyita tandas semua harta.

Jakarta, 9 Juli 2014.

Jose Rizal Manua

Jose Rizal Manua

*Jose Rizal Manua, lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 September 1954. Penyair dan dramawan yang sekaligus pendiri teater anak-anak, Teater Tanah Air (1988), yang meraih juara pertama pada Festival Teater Anak-anak Dunia ke-9 di Lingen, Jerman, tanggal 14-22 Juli 2006. Tahun 1975 mendirikan Teater Adinda bersama Yos Marutha Effendi dan tahun 1986 mendirikan Bengkel Deklamasi Jakarta. Selain itu ia juga adalah seorang pemeran dan pengisi suara dalam beberapa film seperti Oeroeg (1993), Kala (2007), Fiksi (2008), Asmara Dua Diana (2009), dan Meraih Mimpi (2009). Penghargaan lain yang pernah diraih yaitu bersama Teater Tanah Air (TTA) meraih The Best Performance dan meraih medali emas di The Asia Pacific Festival of Children Theatre 2004, yang diadakan di Toyama, Jepang.

Komentar

To Top