Connect
To Top

Jelang Panen, Harga Gabah Kering di Jateng dan Jatim Anjlok

NUSANTARANEWS.CO, Sragen – Harga jual gabah kering panen (GKP) di Jawa Tengah dan Jawa Timur anjlok di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Dalam sepekan terakhir, harga GKP berkisar di angka Rp 3.200 sampai Rp 3.600 per kilogram. Bahkan, di beberapa tempat ada yang sampai di bawah Rp 2.600 per kg.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Eka Rini mengatakan, Tim Upaya Khusus (Upsus) peningkatan produksi padi jagung kedelai (Pajale) melaporkan, harga GKP di Sragen jatuh di bawah HPP Rp 3.700 per kg GKP. Harga rata-rata GKP di tingkat petani sampai dengan Rabu (8/2) kemarin Rp 3.400 per kg.

“Harga selalu berubah, untuk kemarin Rabu di daerah Sragen sebelah selatan berkisar Rp 3.400 sampai dengan Rp 3.600 per kilogram,” kata Eka Rini melalui pesan singkat, Jumat(10/2/2017).

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Mulyo Blimbing, Sragen, Citro mengatakan harga GKP varietas Ciherang pada Selasa (7/2) kemarin juga anjlok sampai Rp 3.200 per kg dan sempat naik pada Rabu menjadi Rp 3.400 per kg.

Adapun untuk varietas mentik, kata Citro, harga GKP masih bertahan di angka Rp 3.800 sampai Rp 4.000 per kg. Menurut Citro, rendahnya harga GKP di bawah HPP tersebut dikarenakan produksi yang melimpah lantaran tidak ada panas. “Tapi, seharusnya di saat gabah banyak begini, harganya tetap sesuai HPP. Jangan diturunkan,” kata dia.

Lebih lanjut di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, petani juga mengeluhkan rendahnya harga gabah. Harga jual gabah tersebut tidak sebanding dengan produktivitas petani yang terus mengalami peningkatan. Mugianto, 39 tahun, salah seorang petani di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan, Grobogan menyatakan, tahun lalu dia sempat merasakan hasil penjualan GKP mencapai Rp 4.000 per kg. Harapannya, pada panen raya kali ini dia pun bisa menjual gabah dengan harga yang sama.

Menurut dia, dengan harga jual gabah hasil panen sebesar itu, petani tidak memperoleh untung. Pasalnya, harga jual gabah tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkannya. Mugianto memerinci, untuk biaya produksi per petak sawah dari dua petak sawah yang digarapnya mencapai Rp 1,3 juta, yang meliputi ongkos tanam, pembelian benih, dan pemupukan. Adapun kedua petak sawah tersebut hanya mampu menghasilkan 1 hingga 1,2 ton gabah.

“Nah, kalau harga jual gabah hanya Rp 3.000, saya cuma dapat Rp 3,2 juta. Bagi kami ini rugi, ongkos untuk tenaga panen belum masuk dalam komponen produksi,” papar dia.

Anjloknya harga gabah di Jawa Tengah juga terpantau Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI). Menurut data PPNSI, anjloknya harga GKP memang terpantau di sejumlah wilayah di Jawa Tengah, termasuk di wilayah karesidenan Surakarta.

“Sudah dari pekan lalu terjadi di wilayah Kabupaten Sragen dan sekitarnya, harga gabah kering panen di bawah Rp 3.000 per kilogram,” kata Ketua PPNSI Riono.

Di luar Kabupaten Sragen, lanjutnya, persoalan yang sama dialami para petani di wilayah Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Di beberapa wilayah daerah ini, harga GKP di tingkat petani masih berkisar Rp 3.000 per kilogram dan bahkan ada yang lebih rendah. Sejauh ini, PPNSI terus memantau perkembangan harga GKP di tingkat petani.

Di Jawa Timur, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur Cendy Tafakkristo menyatakan, harga GKP di Tuban anjlok di angka Rp 2.800 per kilogram. Bahkan, menurut informasi dari Dinas Pertanian Tuban, Bulog setempat sudah tidak bisa menampung lagi gabah produksi petani.

“Produksi petani sedang melimpah karena panen raya dan hujan yang banyak, harganya jadi turun,” kata Cendy.

Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Bambang Heriyanto mengatakan, selain Tuban, harga gabah yang anjlok juga terjadi di Bojonegoro dan Ngawi. Harga GKP di tiga daerah itu berturut-turut Rp 2.800 per kg, Rp 3.500 per kg, dan Rp 3.600 per kg.

“Harga ini masih di bawah HPP karena panen raya, gabah melimpah, dan musim hujan yang panjang. Kami akan berkoordinasi dengan Bulog untuk melakukan penyerapan dengan HPP,” kata Bambang.

Reporter: Richard Andika

Komentar