Ilustrasi Aksi 411 di Jakarta/Foto: Dok. Okezone
Ilustrasi Aksi 411 di Jakarta/Foto: Dok. Okezone

Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch*

JAKARTA LAUTAN CINTA

Kini aku mengerti kenapa sebentar lagi Jakarta akan menyala.

Ribuan kelelawar telah mengabarkan padaku kenapa gelap segera tiba.

Sejarah tak pernah bermimpi tentang hujan panah di negeri ini, tapi dusta dan tipudaya telah menjarah hati nurani.

Burung-burung gagak terbang rendah tanpa mengucap sepatah kata, mengabarkan bahwa matahari masih ada di cakrawala, tapi kabut telah menghanyutkan sinarnya ke dalam gulita.

Jakarta seakan menjadi papan catur yang hanya menampakkan warna hitam dan putih saja, sedangkan pelangi dipaksa menepi saat kegelapan makin sempurna.

Berdiri di kaki Monas, aku mendengar suara gaduh dari jauh, jerit akar-rumput menjemput maut.

Jakarta tak lama lagi akan menyala, begitulah suara sunyi berbisik pada bening sembahyangku.

Suara-suara senyap itu, bisik-bisik di dalam gelap itu, kini semakin nyaring berteriak memekakkan telinga. Akankah waktunya sebentar lagi tiba?

Jakarta lautan cinta. Di kedalaman samudera hanya ada batu karang, di permukaannya ada ombak serta gelombang yang tak henti menerjang.

Gedung-gedung tinggi itu ternyata hanya dihuni oleh nyeri dan luka hati, sebab rakyat Betawi yang menyebut dirinya pribumi telah lama pergi mencari sudut-sudut sunyi agar tak tergilas roda tirani.

Semen dan baja telah mengubur segalanya. Apartemen dan plaza tak menjanjikan senyum bersahaja bagi penghunin kota.

Di balik gagah gedung megah itu, ada jutaan resah yang terus mendesah. Ribuan nyeri yang enggan berbagi selain menikam di ulu hati.

Jakarta segera menyala, sebab para bandar di negeri tetangga telah lama memantikkan ribuan korek api agar kompor-kompor di Ibukota segera meledak dan membakar Senayan, Gedung Bundar hingga Istana Merdeka.

Metropolitan akan menjelma kobaran takbir yang membahana. Deru dan debu akan bercampur dalam baskom yang sama.

Jakarta lautan cinta, tapi kenapa para penggembala tua itu seakan lalai pada domba-dombanya?

Kemiskinan tak cukup hanya dibelai dengan fatwa agama. Kebodohan tak bisa digembalakan oleh para tukang khotbah yang begitu fasih berbicara perihal surga-neraka tapi tumpul rasa pada korban kezaliman dan syahwat durhaka.

Apa maknanya demokrasi jika partai-partai politik hanya peduli pada bendera sendiri, pada pundi-pundi gendut di dalam rekening diri sendiri.

Pilkada hanya upacara dusta jika hanya menjadi ajang pesta untuk mengibarkan bendera partainya sendiri, sementara merah-putih hanya berkibar setengah tiang dan kian memudar warnanya.

Jakarta lautan cinta, tapi Pilkada telah menjadi tsunami yang menghempas jati diri dan harga diri bangsa. Pancasila dan kebhinekaan hanya sebentuk mantra sebab antara kata dan perbuatan semakin jauh jaraknya.

Reklamasi telah menjadi janji yang mencederai naskah proklamasi, sedangkan dalil-dalil agama telah menjadi bara api, lalu kemana lagi akan kupeluk dengan cinta yang murni manakala hati penuh rindu pada Ibu Pertiwi?

Jakarta telah lama membisu, saat jutaan rakyat merindukan daulatnya. Rakyat Betawi yang berbaris di lorong gelap, saat lapangan golf mengusirnya dengan cara yang keji dan nista.

Jakarta lautan cinta, tapi berjuta hiu lapar dan ganas seakan sedang menunggu dan mencari mangsa.

Bangsa apakah ini, yang telah kehilangan kebeningan hati, kejernihan jiwa, kelembutan tutur-kata dan indahnya budi pekerti?

Baca : Jakarta Lautan Doa

 

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

Komentar