Peternakan Ayam (Ilustrasi). Foto: Dok. Republika
Peternakan Ayam (Ilustrasi). Foto: Dok. Republika

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Puluhan peternak ayam baik layer maupun broiler dari berbagai daerah mengelum ke Perum Badan Urusan Logistik (Bulog). Peternak mengaku sulit mendapatkan jagung sebagai bahan baku pakan ayam.

Selain itu, peternak juga mengeluhkan turunnya harga ayam hidup atau live bird pada tingkat peternak yang menyentuh Rp 12.000 hingga 13.000 per ekor.

Menurut mereka, harga tersebut jauh dibawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) pada tingkat peternak sebesar Rp 18.000 per ekor. Padahal peternak harus mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 16.500 per ekor.

Suwardi, salah satu peternak layer asal Kendal Jawa Tengah mengatakan, para peternak didaerahnya cukup kesulitan mencari jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak. “Jagung terlunta-lunta karena sejak 6 bulan kondisinya sulit didapat,” ujarnya kepada jajaran Direksi Bulog, ditulis Kamis (15/6/2017).

Ia mengharapkan agar pemerintah melalui Perum Bulog bisa memberikan solusi terkait kelangkaan jagung yang terjadi saat ini. Maka itu, para peternak berharap bisa mendapatkan kepastian ketersediaan jagung agar tidak mengganggu alur bisnis ternak unggas.

“Harapannya kami ingin jagung tetap tersedia, kasihan sekali peternak hanya menyampaikan melalui Bulog sebagai jembatan,” kata dia.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, jagung impor sebanyak 200.000 ton yang didatangkan dari Brazil pada akhir tahun 2016 lalu memang belum tersalurkan seluruhnya.

Menurut Djarot, hingga saat ini masih terdapat sisa sebesar 62.000 ton jagung yang tersebar di gudang Bulog Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten dan belum terserap untuk keperluan pakan ternak.

Djarot mengakui, sebenarnya persoalan yang terjadi adalah akibat permasalahan komunikasi yang tidak lancar antara Bulog dan peternak.

“Karena komunikasi yang belum lancar makanya pertemuan ini untuk memperbaiki komunikasi, supaya jangan ada kesalahan, dan semua menjadi lebih baik,” ungkap dia.

Dengan itu, Bulog berjanji akan bergerak lebih cepat untuk menyalurkan jagung kepada peternak, karena stok sisa impor sebesar 62.000 ton sebagian sudah mengalami penurunan mutu kualitas jagung.

“Sebagian sudah turun mutu sehingga kami harus cepat bergerak, kalau tidak segera bergerak akan semakin banyak yang turun mutu dan itu potensi kerugian, sebelum menjadi lebih besar kami segera salurkan,” tutur Djarot.

Pewarta: Ricard Andika
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar