Pasar Bringharjo, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)
Selamat berakhir pekan pastikan anda memanfaatkan akhir pekan anda dengan baik. Hari Sabtu dan Minggu saatnya bersantai, berlibur dan memanjakan diri kita.
Pagi ini kebetulan saya berada di kota Yogyakarta. Memanfaatkan akhir pekan kali ini saya mencoba berkeliling dan menyusuri Jalan Malioboro di pagi hari. Sepanjang jalan padangang-pedagang masih terlihat sepi, banyak toko-toko dan swalayan yang juga belum buka seluruhnya. Maklumlah, saya sampai di Malioboro masih sangat pagi dari jam 7.45 WIB.
Namun berjalan di sepanjang pusat perbelanjaan tersohor di Yogyakarta tersebut di pagi hari, ternyata tidak mengurangi keasikannya. Jika kita biasanya berdesakan saat berjalan, Malioboro di pagi hari belum terlalu ramai, para penjual baru bersiap menjajakan dagangan mereka dan para wisatawan maupun warga lokal yang melintas disini masih belum terlalu banyak. Keuntungan lain adalah tidak merasa kepanasan dan orang-orang yang kita jumpai di pagi hari masih segar dan wangi.
Tetapi, kali ini tujuan saya sebenarnya bukanlah Malioboro melainkan pasar Beringharjo. Pasar tersebut masih berlokasi di Jalan Malioboro. Pasar ini juga merupakan salah sati ikon belanja yang sangat populer di lingkungan Malioboro. Pasar ini suda ada sejak 1758 hloo. Widih sangat legendaris, bukan?
Sebenarnya, di pasar ini tersedia berbagai macam kebutuhan lengkap, berbagai jenis kerajinan tangan, aksesoris dan lain sebagainya. Akan tetapi ketika kita memasuki pintu pasar hal pertama yang akan anda lihat adalah kios-kios batik. Kali ini saya mencari pesanan baju luril khas Yogyakarta pesanan ibu saya.
Nah, kebetulan sekitar jam 8 ketika saya masuk ke dalam pasar ini, pasar juga masih relatif sepi pembeli. Ini adalah keuntungan kedua bagi saya. Beberapa bulan lalu, saya merasa sangat kesulitan menawar barang di pasar ini. Kebiasaan melakukan penawaran ketika berbelanja baik di Malioboro maupun di pasar Beringharjo ini memang sudah menjadi kebiasaan umum dan di ketahui oleh masyarakat hingga manca negara.
Baju lurik yang saya beli beberapa bulan lalu pada penjual yang sama diberikan harga 45 ribu dari harga pertama yang ditawarkan yaitu 65 ribu rupiah. Karena toko masih sepi, saya mencoba menawar dengan harga lebih kecil lagi yaitu 35 ribu rupiah. Ibu-ibu penjualnya tidak tampak keberatan, setelah memilih warna yang saya sukai, saya menanyakan ikat kepala yang biasa digunakan sebagai pasangan dari baju lurik ini.
Saya pun mengambil kesempatan untuk kembali menekan harga, yaitu 40 ribu rupiah untuk baju lurik lengkap dengan aksesoris ikat kepalanya. Dengan wajah yang meski sedikit berat tapi tetap ramah sang empunya toko menganggukan kepala.
Saya menjadi terheran-heran, kenapa bisa sangat murah seperti ini? Nah, ternyata jawabannya adalah karena saya adalah pembeli pertama. Dalam tradisi berdagang masyarakat Indonesia, pembeli pertama disebut ‘penglaris’ atau simbol keberuntungan bagi para penjual dengan adanya pembeli yang datang pertama kali.
Wah saya menjadi merasa tambah beruntung dan sangat puas dengan harga yang saya dapatkan. Bagi anda yang mungkin akan berlibur ke Yogyakarta dan ingin berbelanja di area Malioboro dan pasar Beringharjo, mungkin tips berbelanja di pagi hari ini bisa menjadi pilihan berbelanja menyenangkan bagi anda.
Penulis: Riskiana

Komentar