ISIS. (Ilustrasi)

NUSANTARARANEWS.CO, Jakarta – Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, telah mengumumkan secara resmi kemenangan operasi pembebasan Mosul dari pendudukan ISIS. Haider menyatakan bahwa pembebasan kota Mosul sebagai kemenangan besar.

Dalam operasi militer tersebut, tidak kurang dari 100.000 pasukan gabungan militer, polisi, Organisasi Kontra-Terorisme serta pasukan relawan berpartisipasi dalam operasi pembebasan kota Mosul. Dalam operasi pembebasan kota Mosul yang berlangsung lebih dari delapan bulan tersebut pasukan pemerintah Irak telah menghadapi lebih dari 400 serangan pelaku bom bunuh diri serta ribuan serangan bom mobil yang dilakukan oleh mlitan ISIS. Menurut Mayor Jenderal Abdul Amir Rashid Yarallah, 25.000 militan ISIS diperkirakan tewas.

Tidak mengherankan bila Perdana Menteri Haider al-Abadi menyatakan bahwa pembebasan kota Mosul sebagai kemenangan besar. Seperti diketahui, Mosul adalah pusat pemerintahan ISIS ketika pasukan militan ISIS menyerbu Mosul pada tiga tahaun yang lalu, dan berhasil mengalahkan tentara Irak. ISIS kemudian memproklamirkan berdirinya kekhalifahan di Mosul dengan seluruh wilayah yang mereka kuasai.

Dalam operasi pembersihan seminggu terakhir, termasuk guna membebaskan Raqqa pasukan gabungan Irak mengalami pertempuran brutal melawan militan ISIS, terutama menghadapi para militan yang bersembunyi di rumah-rumah dengan mengenakan rompi bunuh diri, serta para penembak jitu.

Meski menelan kekalahan telak di Mosul, bukan berarti ISIS sudah menyerah. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa ISIS telah kalah. Suka-tidak suka, ideologi ISIS dalam dataran tertentu berhasil menarik banyak orang-orang muda yang frustasi untuk bergabung dalam barisannya. Dan terbukti ISIS berhasil melakukan itu dengan menarik pejuang dari seluruh dunia yang bersedia mati demi perjuangannya – untuk menciptakan kekhalifahan yang ekspansif dan memberi inspirasi lebih banyak untuk melakukan serangan di negara asal mereka.

Bahkan tanpa memiliki sesuatu wilayah yang menyerupai sebuah negara, ideologi ISIS dapat bertahan. Memang mereka harus mengubah strategi dan taktiknya dalam membangun barisan dan merencanakan serangan di bawah tanah. Justru taktik gerilya ISIS ini lebih susah di deteksi, bahkan mungkin bisa menciptakan destabilisasi sebuah negara.

Belum lagi kelompok Front al-Nusra, pecahan al-Qaeda yang dianggap sebagai kelompok ekstrim paling kuat di Suriah. Seperti halnya ISIS, al-Nusra memelihara aspirasi pembangunan negara. Upaya itu didukung, di sisi agama, oleh para pemimpin yang sebagian besar adalah orang Arab non-Suriah – misalnya, Abdullah al-Muhaysini berasal dari Arab Saudi.

Al-Nusra juga mendapatkan keuntungan dari keterkaitannya dengan kelompok lain yang memiliki keinginan untuk menyingkirkan Suriah dari rezim Presiden Bashar al-Assad. Memang, al-Nusra saat ini mendominasi sebuah koalisi yang disebut Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), yang terdiri dari 64 faksi, beberapa lebih moderat dari yang lain.
Dengan melihat banyaknya kelompok-kelompok perlawan bersenjata dengan ideologi yang serupa ISIS, menunjukkan bahwa setelah Mosul jatuh, bukan berarti situasi terkendali malah boleh jadi merupakan titik balik dari gerakan serangan bawah tanah yang lebih berbahaya dan mematikan.

Penulis: Banyu

Komentar