Para petani perempuan sedang bercengkrama di sawah/ Foto via pecidasase
Para petani perempuan sedang bercengkrama di sawah/ Foto via pecidasase
Para petani perempuan sedang bercengkrama di sawah/ Foto via pecidasase.blogspot.com
Para petani perempuan sedang bercengkrama di sawah/ Foto via pecidasase.blogspot.com

NUSANTARANEWS.CO – Salah satu masalah penyebab fluktuasi harga pangan adalah banyaknya ‘lahan tidur’ yang tidak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Di sisi lain, banyak petani yang tidak memiliki lahan dan hanya menjadi buruh tani.

“Soal pangan, kalau kita lihat tanah dari Jakarta ke Bandung, kemudian Jakarta ke Banten, itu tanahnya lebar-lebar tapi ditumbuhi ilalang,” ujar Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Benny Soetrisno di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (23/9).

“Lebih berat lagi, itu sudah ada yang punya, dan kalau beli tanah itu sebagai lahan pertanian pasti mahal, padahal petani banyak yang mau tanam, tapi tak punya lahan,” imbuhnya.

Ia menilai, banyak lahan yang tak terpakai ini yang kemudian memicu lonjakan harga lantaran masalah klasik yang terus berulang, pasokan dari petani yang menurun pada saat-saat tertentu.

“Banyak lahan tidak terpakai, tapi tiba-tiba harga cabai jadi mahal Rp 50.000/kg, karena efisiensi tanah nggak ada buat hasilkan pangan. Pemerintah fokus di sini dulu, kita punya banyak tanah, tapi sudah ada yang punya, dan dianggurkan,” ujar Benny.

Hal lainnya yang jadi masalah sektor ini, yakni sektor pertanian yang tidak mendukung tumbuhnya sektor industri alat dan mesin pertanian.

“Misal Kementerian Pertanian kerjasama dengan Kementerian Perindustrian, untuk menyediakan alat pra dan pasca panen pertanian. Karena tidak ada kerjasama, pengadaan alat dan mesin pertanian jalan sendiri, banyak yang impor, industri dalam negeri tak diberdayakan,” pungkas Benny. (Andika)

Komentar