Manajer Leicester City, Claudio Ranieri Tampak Menenangkan Riyad Mahrez. Fot/Ist
Manajer Leicester City, Claudio Ranieri Tampak Menenangkan Riyad Mahrez. Fot/Ist

NUSANTARANEWS.CO – Kompetisi Premier League 2016-2017 tampaknya menjadi musim yang penuh paradoksal bagi tim juara bertahan Leicester City. Hingga pekan ke-14, pasukan manajer Claudio Ranieri begitu kelihatan ‘payah’.

Saat ini posisi mereka berada dua poin di atas zona degradasi. Jelas, kondisi ini menjadi ironi, mengingat pada kompetesi musim lalu, The Foxes sepanjang musim hanya mendera 3 kali kekalahan.

Seakan, berbanding terbalik dengan capaian musim lalu. Menyandang status sebagai juara bertahan, Leicester tampak terseok-seok. Sampai pekan ini, tim kebanggaan masyarakat Kota Pelajar di Inggris itu telah mengalami 7 kali kekalahan.

Table Liga Inggris pekan ke-14. Foto Nusantaranews
Table Liga Inggris pekan ke-14. Foto Nusantaranews

Kiranya perlu ditelisik, apa gerangan yang menyebabkan performa Leicester City begitu tak bertaji. Secara taktik, nyaris tak ada perubahan yang berarti. Persis dengan musim lalu.

Dimana Ranieri masih menerapkan pola permainan counter attack dengan mengandalkan ujung tombak Jamie Vardy dan Riyad Mahrez. Hanya minus Kante.

Kante Effect’s

Mungkinkah hilangnya Kante dari skuad The Foxes membuat pasukan Ranieri menjadi pincang? Tampaknya alasan ini sepenuhnya tak bisa dijadikan tolak ukur.

Sekalipun pernah memiliki peran penting di tubuh Leicester, namun penggunaan hepotesa tentang peran Kante dan rapuhnya Leicester musim ini kiranya itu cukup gegabah. Pasalnya peran Daniel Amartey yang menggantikan posisi Kante tak begitu buruk, meskipun belum menyamai peran Kante sebagaimana mestinya.

Terlepas minus Kante, namun ada hal lain yang lebih kuat untuk dijadikan parameter mengapa kondisi Leicester kian ‘kritis’ dewasa ini.

Selain memang strategi mengandalkan serangan balik yang sudah terbaca, persiapan rival-rival di Premier League musim ini jauh lebih siap dibanding Leicester. Misalnya Chelsea, Manchester City, Manchester United, Liverpool dan Arsenal, mereka melakukan pembenahan besar-besaran pada musim 2016/2017.

Selain itu, berlabuhnya manajer-manajer kelas wahid macam Mourinho, Pep Guardiola, Antonio Conte serta Klopp menjadi sinyal betapa berat persaingan di Liga Inggris. Ini nampaknya yang menjadi alasan kuat, mengapa Leicester terseok-seok bahkan nyaris turun kasta ke zona degradasi. Pembaca tentu punya alasan sendiri bukan?

*Romandhon Emka, penikmat kopi, bola dan buku, memiliki kecenderungan ke Meriam London.

Komentar