Tambang PT Freeport di Papua. Foto dok. reuters
Tambang PT Freeport di Papua. Foto dok. reuters

NUSANTARANEWS.CO -Baru-baru ini kembali sengketa PT Freeport mengemuka ke ruang publik. Namun siapa sangka, ternyata di balik sengketa Freeport hari ini dalam lipatan sejarahnya memiliki cerita yang panjang. Dalam irisan sejarah masa lampu ini, kita akan mendapat benang merah mengapa sengketa Freepor begitu pelik.

Adalah Lisa Pease, seorang penulis asal Amerika Serikat yang membuat artikel menghebohkan dengan judul JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur yang dimuat dalam Majalah Probe, edisi Maret-April 1996. Lisa Pease dalam tulisannya mengungkapkan bahwa Freeport Sulphur awalnya, nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya pun terkena imbasnya.

Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur berupaya melakukan pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan. Di balik cerita Pease, ada seorang aktor yang tidak terlihat penampilannya. Seorang aktor yang sukses menghantarkan Presiden Johnson memenangi pemilihan Presiden Amerika tahun 1964, setelah peristiwa pembunuhan Presiden JFK. Aktor itu dikenal dengan sebutan Mr. Gus.

Siapakah Mr. Gus itu. Dia adalah seorang anggota dewan direksi PT. Freeport yang sangat berkepentingan dengan proyek Ersberg di Papua serta keberlangsungan PT. Caltex sebagai perusahaan minyak nomor tiga terbesar di Indonesia.

Nama asli Mr. Gus adalah Augustus C. Long (23 Agustus 1904 – 15 November 2001). Seorang anak dari Hakim Distrik Federal Amerika. Lulusan terbaik Akademi Angkatan Laut AS tahun 1926 ini, mengawali karir panjangnya di dunia perminyakan ketika mulai bekerja di stasiun pengawas Texaco. Tahun 1932, Long ditunjuk sebagai General Manager Texaco untuk Irlandia dan manajer di Belanda tahun 1934. Ketika pecah Perang Dunia Kedua, Long kembali aktif di Angkatan Laut dengan pangkat Letnan, yang bertanggung jawab atas koordinasi pasokan minyak pasukan sekutu yang berperang dari London.

Lisa Pease dalam investigasinya menemukan bahwa selama 41 tahun berkarir di TEXACO, ada sebuah peristiwa dimana antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Bulan Maret 1965, Long diangkat menjadi Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Menariknya, 5 bulan kemudian, Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri setelah terbunuhnya JFK. Sebuah badan yang memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Termasuk Indonesia.

Penulis: Banyu A.

Komentar