Connect
To Top

Internet Ibarat Pisau Bermata Dua Bagi Indonesia

NUSANTARANEWS.CO – Tren perkembangan Internet di dunia semakin pesat dari tahun ke tahun. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, menurut data Google, pertumbuhan Internet tumbuh lima kali lipat. Membaca tren tersebut Google memperkirakan sekitar 100 juta orang di Indonesia sudah online dari berbagai perangkat atau berada di posisi ke-5 sebagai pengguna internet terbesar di dunia.

Perkembangan internet sendiri sebenarnya membawa banyak manfaatnya bagi segi pendidikan kita. Misalnya seperti layanan search engine, email, chatting, semua itu dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas untuk memperkaya informasi materi pelajaran. Meski demikian, internet ini ibarat pisau bermata dua, jika kita tidak bijak memanfaatkannya justru akan menjadi bumerang bagi dunia pendidikan itu sendiri. Sebab generasi muda atau usia pelajar kita di kenal sebagai heavy user yaiu generasi yang paling banyak menggunakan dan paling sering menghabiskan waktu dengan internet. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, YouTube, Instagram, dan media sosial lainnya.

Namun sangat disayangkan penggunaan internet di kalangan muda justru belum dapat dimanfaatkan dengan baik. Sebab kejahatan anak karena Internet di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya semenjak adanya internet. Berikut kasus-kasus yang terdata oleh KPAI :

1. Kekerasan seksual Online
2011 : 17 orang
2012 : 11 orang
2013 : 23 orang
2014 : 53 orang

2. Anak Korban Pornografi/Pornoaksi dari internet
2011 : 31 orang
2012 : 34 orang
2013 : 42 orang
2014 : 48 orang

3. Anak Korban Pornografi/Pornoaksi dari CD Porno
2011 : 32 orang
2012 : 27 orang
2013 : 36 orang
2014 : 25 orang

4. Anak Korban Pornografi/Pornoaksi dari material cetak
2011 : 46 orang
2012 : 53 orang
2013 : 79 orang
2014 : 82 orang

Tidak hanya itu, dari sisi ekonomi Indonesia juga nampaknya tidak bisa memanfaatkan momentum tersebut. Momentum dimana negara-negara maju akan memasuki masa keemasan dan masa keemasan itu dipegang oleh generasi-generasi emas. Generasi emas itu adalah adik-adik kita saat ini yang masih duduk di bangku SMP dan SD. Negara-negara maju itu sudah mempersiapkannya dari dini dengan membuat berbagai macam elektronik digital elektronik, dimana saat ini elektronik digital yang murah dari Cina contohnya sudah beredar di pasar Internasional termasuk di pasar Indonesia. Namun apakah di antara barang digital elektronik yang beredar tersebut beberapa di antaranya ada yang buatan dan hasil karya anak bangsa? Mungkin ada beberapa yang harga dan kualitasnya juga dapat bersaing dengan produk dari China, akan tetapi kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah menghargai karya anak bangsa membuat produk kita menjadi tak dipandang dan tidak bisa bersaing.

Kalau hal-hal semacam ini tidak ditangani dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat, maka target Indonesia Emas di tahun 2045 tentu akan mengalami kegagalan. Dan pada sampai akhirnya nanti bumi Pertiwi kita ini hanya akan menjadi pasar bagi negara-negara maju, dan kita untuk selamanya akan selalu menjadi konsumen.

Dari tulisan tersebut adapun pesan yang ingin disampaikan yakni duduklah anak-anak generasi emas kita saat ini dengan kualitas guru dan media pengajar yang baik. Bagaimana agar guru lebih kreatif dalam membuat materi ajar, karena guru yang kreatif akan menghasilkan murid yang kreatif. (restu)

Komentar