Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa

Kolom Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin

NUSANTARANEWS.CO – Arus globalisasi pada dekade terakhir abad ke 20 telah menciptakan gejala baru, dimana keterkaitan antar negara dalam bentuk terdependensi atau saling ketergantungan menjadi semakin menguat. Dengan prinsip perdagangan bebas, maka batas ekonomi negara menjadi kabur.

Arus barang, modal, jasa dan teknologi menjadi sedemikian leluasa. Dengan terjadinya perubahan yang dinamis di dunia, maka mobilitas modal dapat menjadi penyebab ketidakpastian keadaan suatu negara.

Bentuk ancaman fisik langsung bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kehilangan makna hakikinya. Persetujuan negara untuk mengizinkan suatu bentuk keterbukaan secara nyata telah mengundang kemungkinan timbulnya bentuk baru ancaman.

Kerelaan membuka diri bangsa Indonesia telah mentransformasikan sifat “ancaman” menjadi “tantangan”. Dengan sifat tantangan non fisik inilah, maka akan lahir dampak keamanan nasional yang timbul justru dari “musuh” yang tidak langsung yaitu kesenjangan sosial.

Dalam menjalankan konsepsi ketahanan nasional, maka upaya mengembangkan kekuatan nasionalnya dicapai melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan, yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan menyeluruh berlandaskan Pancasila, dan UUD 1945.

Dengan demikian, keseimbangan pendekatan kesejahteraan dan keamanan menjadi acuan dari konsepsi ketahanan nasional Indonesia. Kaitan dengan era globalisasi, maka bentuk kehidupan sehari-hari seluruh masyarakat Indonesia mengalami perubahan paradigma yang mendasar.

Hal-hal yang di masa lalu dikategorikan sebagai ancaman fisik dan penanganannya secara represif, saat ini lebih dipandang sebagai tantangan yang upaya penanganannya dilakukan melalui pendekatan kemanusiaan. Tantangan nyata ini terus-menerus berinteraksi dalam kehidupan masyarakat di era krisis.

Kemudahan dan kebebasan informasi sebagai unsur pembentuk opini publik ditambah arus kegiatan ekonomi yang tidak terkendali telah semakin memperkuat kesan, bahwa aspek keamanan dan kesejahteraan menjadi komponen utama dipaska perang dingin. Dalam perannya memperkuat ketahanan nasional suatu bangsa.

Krisis moneter yang diikuti oleh krisis ekonomi tahun 1997 telah membuktikan bahwa suatu telaah atas peran keamanan nasional dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat menjadi hal yang memerlukan telaah khusus. Demikian pula peran kesejahteraan masyarakat dalam kontribusi pada keamanan nasional menjadi faktor kunci bagi keluarnya bangsa Indonesia dari krisis. Sehingga memerlukan kajian lebih mendalam dalam kaitan memperkuat konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia. []

Baca: Membedah Sisi Lain Kerusakan Sistem Ekonomi 1997 Di Indonesia

Editor: Romandhon

Komentar