Ekonomi

Inovasi dan Produktifitas Pendongkrak Industri Kreatif di Masa Depan

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih usai meresmikan pembukaan Pameran Kerajinan Jogja Istimewa. Foto Humas Kemenperin
Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih usai meresmikan pembukaan Pameran Kerajinan Jogja Istimewa. Foto Humas Kemenperin

NUSANTARANEWS.CO – Industi kreatif perlahan tapi pasti akan tumbuh subur di Indonesia. Dimana hal itu akan beriringan dengan tumbuhnya ekspresi nasionalisme kontemporer di kalangan generasi muda Indonesia.

Seperti yang pernah disampaikan sebelumnya, sejumlah generasi muda Indonesia tanpa hingar-bingar propaganda secara alamiah mulai mengidentifikasi diri dengan tradisi budaya lokal. Dimana mereka melakukan refashion, seperti menjual makanan, kosmetik, kerajinan, pakaian dan aksesoris sebagai bentuk melestarikan warisan budaya.

Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menghendaki keberadaan industri kreatif di tanah air untuk terus melakukan inovasi agar mampu berdaya saing dan meningkatkan nilai tambah produknya sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Sektor yang berbasis industri kecil dan menengah ini menjadi prioritas dalam pengembangannya karena merupakan padat karya berorientasi ekspor.

“Industri kreatif menyumbang sekitar Rp642 triliun atau 7,05 persen terhadap totalPDB Indonesia pada tahun 2015. Kontribusi terbesar berasal dari sektor kuliner sebanyak 34,2 persen, mode atau fashion 27,9 persen dan kerajinan 14,88 persen,” kata Gati usai membuka secara resmi Pameran Produk Kreatif Nusantarayang diselenggarakan Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (14/3).

Baca: Generasi Muda, Tulang Punggung Industri Kreatif di Indonesia

Menurut Gati, berdasar data BPS yang diolah Dirjen IKM, IKM terus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri yang cukup signifikan setiap tahun. Hal ini terlihat dari capaian pada tahun 2016 sebesar Rp520 triliun atau meningkat 18,3 persen dibandingkan pada 2015. Sementara itu, nilai tambah IKM di tahun 2014 tahun sekitar Rp373 triliun menjadi Rp439 triliun tahun 2015 atau naik 17,6 persen.

“Untuk memacu produktivitas dan daya saing IKM, kami akan memberikan fasilitas pada tahun ini berupa pengembangan produk, restrukturisasi mesin dan peralatan, serta promosi dan pameran,” tuturnya.

Selain itu, katanya, juga akan dilaksanakan program bimbingan teknis, start-up capital, pendampingan, dan fasilitasi izin usaha industri.

Gati menambahkan, dengan adanya pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN, pasar bebas tersebut bisa menjadi peluang dan tantangan bagi industri dalam negeri khususnya sektor IKM.

“Oleh karena itu, Kemenperin melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasinya, antara lain melalui penyusunan dan implementasi Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap produk kerajinan,” ucapnya.

Karenya diperlukan penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sebagai rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan keahlian, serta melaksanakan kegiatan pelatihan-pelatihan dalam rangka mengembangkan kemampuan para perajin di Indonesia. “Hal lain yang tidak kalah penting adalah menguatkan branding produk nasional,” imbuhnya.

Kemenperin, kata dia, telah meluncurkan program e-Smart IKM yang mewadahi para pelaku IKM potensial untuk memasarkan produk unggulannya yang berkerjasama dengan marketplace yang sudah ada. “Karena jaminan kualitas dan ketepatan waktu adalah kunci untuk mencapai keberhasilan pemasaran,” tegasnya.

Gati memastikan, IKM yang telah memanfaatkan pemasaran melalui online mampu meningkatkan nilai penjualannya hingga tujuh kali lipat. “Hal ini yang terus kami dorong, karena dengan income meningkat, produkstivitasnya akan naik, dan tenaga kerjanya juga bertambah,” jelasnya. (rsk/rep)

Editor: Sulaiman

Komentar

To Top