Ini Sejumlah Faktor Anies Bisa Kalahkan Ahok Versi Voxpol

0
Debat Final pilkada DKI, Ahok dan Anies bersalaman/foto Istimewa/Nusantaranews
Debat Final pilkada DKI, Ahok dan Anies bersalaman/foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat Jakarta terkait hasil Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017, Voxpol Center Research & Consulting resmi merilis hasil penghitungan cepat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 Putaran Kedua. Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 yang diselenggarakan dalam dua putaran ini menandakan sengitnya persaingan yang terjadi di Ibukota. Sengitnya persaingan berimplikasi terhadap tingginya tensi masyarakat untuk segera mengetahui hasil Pilgub DKI Jakarta kali ini.

Direktur Eksekutif Quick Count Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, mengungkapkan bahwa pihaknya menggunakan sampel sebanyak 400 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan margin error 1%. Metode yang digunakan dalam Quick Count ini adalah Systematic Random Sampling yang mana sampel diacak secara sistematis sesuai pola yang telah ditentukan. Dari hasil quick count tersebut diperoleh hasil keunggulan pasangan nomor urut 3 Anies Rasyied Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno unggul dari pasangan nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat dengan perolehan suara sebesar 59,40% berbanding 40.60%.

Dari segi partisipasi Pilgub DKI Jakarta kali ini, Pangi mengatakan bahwa mengalami sedikit peningkatan partisipasi pemilih. Partisipasi pemilih pada Pilgub putaran kedua ini naik sekitar 1% dari yang sebelumnya 77% menjadi 78% . Tereliminasinya pasangan Agus Harimurti (AHY) dan Sylvi ternyata tidak membuat para pendukung pasangan tersebut menyia-nyiakan hak pilih mereka.

“Kemenangan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno ini menandakan bahwa pasangan tersebut berhasil mendapatkan limpahan elektoral yang besar dari pasangan Agus Harimurti-Sylviana Murni. Kesamaan basis pemilih Islam antara keduanya menjadi faktor utama adanya kenaikan bobot elektoral pasangan Anies-Sandi. Pernyataan sikap partai PPP dan PKB secara institusional untuk mendukung pasangan Ahok-Djarot tidak serta merta diikuti oleh para kader dan simpatisannya. Pernyataan sikap partai seakan hanya menjadi himbauan yang terabaikan, oleh para kader dan simpatisan di level grassroot (akar rumput),” ungkapnya kepada wartawan, Jakarta, Kamis (20/4/2017) kemarin.

Menurut Pangi, kekalahan Ahok disebabkan oleh banyak faktor baik faktor dari kubu Ahok-Djarot sendiri maupun faktor dari kubu Anies-Sandi. Kekalahan Ahok dimulai pada saat terbukanya kotak Pandora yang disebabkan oleh kasus penistaan Al-Maidah 51 oleh Ahok. Tindakan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok menyebabkan menguatnya sebuah identitas politik yaitu identitas pemilih muslim. Pada saat yang sama, pemilih menutup mata atas semua capaian, kinerja dan bukti Ahok membangun Jakarta.

“Sentimen negatif terhadap Ahok semakin buruk dengan video perkataan Ahok yang tersebar diberbagai media, yakni soal wifi yang menggunakan user Al-Maidah 51 dengan password kafir. Kasus ini menyentuh langsung perasaan sebagian besar masyarakat muslim Jakarta dan memantik sentimental agama. Kasus-kasus Ahok ini bagi sebagian besar masyarakat muslim telah masuk ke dalam ranah penistaan agama, di mana seharusnya Ahok tidak menyentuh ranah tersebut. Mulai viralnya video perkataan Ahok ini lantas menimbulkan berbagai gelombang aksi penolakan untuk memilih Ahok. Adanya kasus tersebut juga membuat Ahok sulit untuk menangkap pemilih dari golongan masyarakat Islam yang mana merupakan basis massa seksi untuk melancarkan lajunya di kontestasi Pilkada ini,” ujarnya.

Faktor kegagalan lainnya yang terjadi di kubu Ahok-Djarot, lanjut Pangi, berasal dari blundernya pesan yang diberikan oleh tim pemenangan. Pesan iklan Kebhinekaan Pancasila yang dihembuskan oleh kubu Ahok-Djarot justru kontra produktif dan kembali memantik isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) yang sebelumnya terjadi. Pesan yang digencarkan oleh kubu Ahok-Djarot semakin memantik sentimen negatif masyarakat dan sulit untuk dinetralkan. Lebih lanjut, munculnya isu hujan sembako yang disertai dengan bukti-bukti yang tersebar secara massif di media sosial pada saat masa tenang semakin menyudutkan pasangan Ahok-Djarot. Isu ini menjadi bola liar yang merugikan citra Ahok sebagai sosok pemimpin anti korupsi.

“Selain faktor-faktor tersebut ada pula faktor eksternal lainnya yang secara tidak langsung ikut menggerus elektabilitas Ahok. Kasus kesalahpahaman Steven pada¬† Gubernur NTB Tuan Guru Bajang di Bandara Changi Singapura, kemudian membuat Steven melontarkan kata-kata rasial. Kejadian ini tersebar massif di media sosial dan secara tidak langsung semakin memantik isu SARA yang belakangan ini sudah memanas,” katanya.

Di samping itu, Pangi menuturkan, selain mendapatkan keuntungan dari kelemahan dan sentimen negatif Ahok, kemenangan Anies-Sandi disebabkan karena kuatnya kinerja partai pendukung dan relawan pasangan Anies-Sandi. Meskipun pasangan Anies-Sandi hanya didukung oleh partai PKS, Gerindra, dan PAN, namun mesin partai mereka dapat bekerja lebih efektif sampai level grassroot. Tim Anies-Sandi tampak sangat loyal, mereka mampu menampik serangan atau isu-isu negatif yang dihembuskan kepadanya. Isu-isu itu juga berhasil dinetralkan dan digeser ke makna positif, baik serangan darat maupun udara (media sosial).

“Tim Anies-Sandi juga memiliki kemahiran dalam mengelola isu populis serta memberikan pesan-pesan positif dan narasi-narasi besar selama masa kampanye berlangsung. Dalam setiap debat pun Anies-Sandi dapat memberikan penampilan terbaik dan meyakinkan pemilih Jakarta. Inilah yang membuat Anies-Sandi dapat melenggang menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta,” ungkapnya. (DM)

Editor: Romandhon

Komentar