Sosok

Ini Kisah Perjalanan Sudirman Said

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dalam Forum Diskusi Ketahanan Energi untuk Masa Depan di Kampus MM UGM Jakarta/ Foto Andika
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dalam Forum Diskusi Ketahanan Energi untuk Masa Depan di Kampus MM UGM Jakarta/ Foto Andika

NUSANTARANEWS.CO – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menceritakan kisah perjalanan karirnya sejak dipinang Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi menteri.

Dia menuturkan, saat pertemuan perdana pada 26 Oktober 2014, Jokowi mengatakan bahwa fokus utama pemerintahannya dalam sektor energi adalah terkait kapasitas produksi migas yang masih rendah, pembangunan kilang, sektor kelistrikan, energi baru dan terbarukan (EBT) di Tanah Air yang masih ketinggalan, hingga mengenai mafia yang ada di sektor energi Tanah Air. Jokowi pun bertanya mengenai solusi untuk hal tersebut.

“Meskipun kata beberapa teman sebetulnya saya tidak masuk dalam nominasi. Saya kira wajar karena tidak masuk bagian tim transisi, tidak ikut kampanye, bukan bagian dari politik dan tidak dalam bagian circle kabinet,” ujarnya, dalam Forum Diskusi Ketahanan Energi untuk Masa Depan di Kampus MM UGM Jakarta, Sabtu (24/9).

Sudirman mengungkapkan, dirinya hanya 10 tahun bergelut di sektor energi, salah satunya menjabat Kepala Integrated Supply Chained (ISC) Pertamina. Namun, dia memiliki keyakinan bahwa pemberantasan mafia tidak bisa diselesaikan hanya dengan persoalan teknis.

“Saya ditanya bagaimana menyelesaikan ini semua. Jawaban saya, Pak Presiden, saya hanya 10 tahun di energi itupun bukan di core activity. Tapi saya punya keyakinan kalau pemimpin kita lurus banyak orang yang bisa bergabung. Menurut saya, membereskan mafia bukan persoalan teknis semata, tapi soal leadership. Soal kelurusan pemimpin nasional,” ungkapnya.

Saat diberi kepercayaan untuk membantu transformasi di PT Pertamina (Persero), Sudirman mengaku mendapatkan fakta bahwa banyak inisiatif baik yang berhenti di meja Presiden.

“Diskusi berlanjut dan saya belum dapat kesimpulan mengenai penugasan. Tapi saya bersiap-siap,” lanjutnya.

Menurut Sudirman, secara organisasi, sektor ESDM mengalami tekanan luar biasa dari aspek pemerintahan (governance). Bahkan, dia mengambil kesimpulan bahwa jabatan Menteri ESDM adalah jabatan yang paling sial kala itu.

“Pendahulunya dipenjara, kepala SKK Migas-nya dipenjara, Sekjennya dipenjara, pimpinan Komisi VII dipenjara. Enggak ada menteri yang lebih sial dari Menteri ESDM waktu itu,” ucap Sudirman, seraya tersenyum miris.

Reputasi yang buruk dan pekerjaan rumah yang besar, maka yang dilakukannya saat menjabat sebagai Menteri ESDM adalah kembali pada nilai yang ideal.

“Dan itu yang kita lakukan. Ketika saya menerima tugas ini, yang kebayang orang-orang benar seperti Pak Nur Pamudji (mantan Dirut PLN), Amien Sunaryadi (Kepala SKK Migas), dan Pak Widhyawan. Semua orang yang selama ini dalam network kita, kita mengatakan kita musti kerjakan sama-sama,” tandas mantan Bos PT Pindad (Persero) itu.

Seperti diketahui, saat ini jabatan menteri ESDM masih kosong. Hal ini menyusul pencopotan Arcandra Tahar (pengganti Sudirman Said) terkait kewarganegaraan asing. Untuk sementara jabatan plt menteri ESDM diisi Luhut Binsar Pandjaitan, yang juga menjabat Menko Kemaritiman. (Andika)

Komentar

To Top