Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman/Foto Andika / NUSANTARAnews
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman/Foto Andika / NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Pemerintah telah menargetkan swasembada pangan sampai akhir 2019 nanti. Salah satu komoditas yang ditargetkan yang tidak akan impor dalam dua tahun ke depan adalah jagung. Untuk mewujukan hal itu Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman pun melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah untuk mendongkrak produksi jagung supaya impor jagung bisa ditutup total.

“Jadi kalau sudah ada tambahan produksi jagung, kita bisa kurangi impor. Impor jagung kita tahun ini turun kurang lebih 3 juta ton, itu nilainya Rp 7 triliun-Rp 8 triliun, padahal baru sekali gerak,” ujar Amran melalui keterangan tertulisnya, Selasa (17/1/2017).

Amran menyampaikan, salah satu caranya dengan mengawal penanaman perdana benih jagung hibrida di Desa Tetewatu, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Program Penanaman Jagung di lahan 10 ribu hektare yang digagas Pemerintah Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara diapresiasi Amran sebagai implementasi dari program Sulawesi Tenggara Mandiri Pangan.

“Konawe Utara, khusus jagung harus dikembangkan karena masih ada impor kita 800 ribu ton. Dulu tahun 2016 rencana impor jagung 4 juta ton, impor turun 66 persen. Jagung ini menjanjikan untuk rakyat karena setiap rakyat tanam jagung tidak ada kata rugi,” kata dia.

Penanaman ini diharapkan mampu menambah pasokan kebutuhan jagung nasional dan dapat menekan impor jagung. Untuk diketahui, produksi jagung pada 2015 mencapai 19,83 juta ton atau naik 4,34 persen dari tahun 2014. Di tahun 2016, Kementan menargetkan produksi jagung sebesar 21,53 juta ton.

“Produksi jagung 2016 lebih dari cukup memenuhi kebutuhan industri pakan. Kebutuhan industri terdata sebanyak 750 ton per bulan dan total kebutuhan jagung nasional 1,55 juta ton per bulan,” tutur Amran. (Richard/***)

Komentar