(Foto: Shutterstock)

NUSANTARANEWS.CO – Kehadiran anak dalam sebuah keluarga menjadi hal yang sangat berharga bagi orang tua. Mulai dari kelahiran hingga pertumbuhannya membuat orang tua selalu ingin mengabadikan tingkah lucu, perkembangan hingga tangis dan tawa mereka. Terlebih saat mereka memasuki usia yang menggemaskan.

Tingkah menggemaskan sang anak, juga sering kali memicu keinginan orang tua untuk meng-upload-nya ke media sosial, entah dalam bentuk foto maupun video. Sebuah penelitian menemukan setidaknya satu dari lima orang tua meng-upload aktivitas anak mereka di media sosial dalam bentuk foto maupun video.

Itu hanyalah penelitian yang dilakukan di wilayah Inggris dan beberapa negara Eropa. Jika kita menilik kebiasaan tersebut, di Indonesia sepertinya jumlah itu belum seberapa. Kita ketahui, banyak sekali orang tua yang hampir saban hari memposting kegiatan anaknya. Para artis tanah air juga tidak melewatkan dari hal ini, mereka sangat gemar meng-upload foto maupun video anak mereka di media sosial.

Sejumlah kasus sempat tercatat di kepolisian, di mana beberapa artis sempat melaporkan foto anak-anak mereka dicatut oleh situs penjualan anak. Namun, hal tersebut tampaknya tidak menjadi pelajaran berarti bagi mereka.

NSPC, sebuah organisasi amal dan peduli anak menghimbau kepada para orang tua untuk berpikir dua kali sebelum memposting foto anak mereka.

Ini bukan hanya soal menghindari tindakan kriminal yang bisa jadi menimpa anak mereka. Akan tetapi secara mental tindakan orang tua ini mungkin saja berpengaruh pada mentalitas anak. Anak pada usia tertentu dan dalam hal tertentu terkadang memiliki kecenderungan sensitifitas karena perasaan yang selalu berkembang. Mungkin anda merasa bahwa hal itu agak sedikit lucu. Akan tetapi mungkin pada perasaan sang anak, hal tersebut justru hal yang memalukan.

Akan lebih baik jika sebelum, memposting foto mereka anda meminta persetujuan dari mereka.

Kebiasaan memposting foto yang dilakukan oleh orang tua juga dapat mempengaruhi kerja pikiran mereka. Kedekatan anak dengan gadget menjadikan anak-anak bahkan yang baru berusia 5 tahun dapat meng-upload foto mereka sendiri. Ini sangat berbahaya. Mengingat, kemampuan nalar pada anak-anak mungkin belum sampai untuk membedakan apa yang boleh dan tidak boleh mereka posting.

Kebiasaan memposting aktivitas anak atau saat ini dikenal dengan istilah “Sharenting“, hendaknya dihindari, untuk mencegah terjadinya berbagai kejahatan maupun serangan mental terhadap anak.

Dikutip dari The Telegraph, Justin Robert yang merupakan pendiri dan CEO Mumsnet mengatakan, “Saya menghindari posting gambar dari anak-anak saya di media sosial.”

Penulis: Riskiana
Editor: Eriec Dieda

Komentar