Berita Utama

Ini Arti Bahasa Tubuh Ketiga Paslon Saat Closing Statement Final Debat Pilkada DKI

Foto bersama Cagub-Cawagub DKI Usai Debat/ Foto: Dok. detikcom / Rengga Sancaya
Foto bersama Cagub-Cawagub DKI Usai Debat/ Foto: Dok. detikcom / Rengga Sancaya

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta Closing statement atau pernyataan penutup ketiga pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di akhir sesi debat terakhir, menunjukkan bahwa ketiga paslon tersebut sangat yakin untuk maju menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Hal itu disampaiak oleh Pakar bahasa tubuh Monica Kumalasari dengan beberapa analisa terhadap gestur dan daya ucap ketiga paslon ketika menyampaikan pernyataan penutupnya, Jumat malam (10/2/2017) lalu di hotel Bidakara, Jakarta.

“Ada satu teori komunikasi yang mengatakan bahwa kata-kata hanya berpengaruh 7 persen, 38 persen berasal suara dan 55 persen dari bahasa tubuhnya,” kata Monica kepada Antara seperti dikutip nusantaranews, Minggu (12/2/2017).

Baca:

Debat Pilkada DKI 3, Ahok: Paslon Nomor Urut 1 dan 3 Suka Bangun Opini Menyesatkan
Disebut Ahok Bangun Opini Menyesatkan, Ini Jawaban Agus Yudhoyono
Debat Pilkada DKI 3, Ahok-Djarot vs Anies-Sandi Soal Kekerasan di Sekolah

Namun demikian, Monica juga menilai bahwa paslon nomor urut satu nampak grogi dan tidak siap. “Banyak terlihat kebocoran dari bahasa tubuh (paslon nomor urut satu),” kata Monica. Sementara paslon nomor dua merasa telah memiliki pengalaman namun pemilihan kata-kata dari cagub nomor urut 2 kurang santun.

Sementara paslon nomor urut tiga, kata Monica, cenderung bermain dalam konsep yang normatif. “Ini menguntungkan karena mereka seolah-olah piawai menerjemahkan visi dan misinya. Namun demikian banyak kebocoran (hal yang seharusnya ditahan namun tak bisa tertahankan) terjadi dalam hal penguasaan emosi yang ditunjukkan oleh cagubnya,” terang Monica.

Adapun hasil analisan Monica adalah sebagai berikut:

Bahasa Tubuh Paslon Nomor Urut 1

Pernyataan AHY diawali dengan melakukan manipulative gesture yang tidak perlu seperti memperbaiki posisi outfit. AHY membuka dengan menyampaikan kegagalan petahana yang telah disampaikannya dalam segmen-segmen sebelumnya.

Hanya saja, AHY menyentuh ke hal yang bukan merupakan keahliannya yaitu tentang perbaikan karakter yang dia sebut sangat sulit dan hal ini diulangi hingga beberapa kali. Tak hanya paslon 2, namun paslon 3 juga tidak luput dari serangannya.

Bahasa Tubuh Paslon Nomor Urut 2

Gambar kondisi Kalijodo yang dipertunjukkan sesungguhnya sudah merebut simpati, namun kata-kata selanjutnya justru membuat paslon ini seperti menegaskan apa yang disampaikan oleh paslon 1.

Basuki Tjahaja Purnama menutup closing session padahal dia bukanlah seorang orator yang baik. Basuki lebih tepat menjadi pekerja dan realisator sedangkan Djarot sangat baik dalam urusan keprotokoleran.

Bahasa Tubuh Paslon Nomor Urut 3

Anis membuka dengan pernyataan yang lugas dengan penegasan melalui kedalaman dan hentakan suara serta hand gesture bahwa rakyat Jakarta menginginkan pemimpin baru. Pasangan calon ini memperhatikan pemilihan kata tanpa menyinggung paslon lainnya.

Editor: Sulaiman

Simak:
Debat Pilkada DKI Jakarta 3, Anies-Sandi vs Agus-Sylvi Soal Penertiban dari Satpol PP ke Pedagang
Debat Panas Ahok-Djarot vs Agus-Sylvi Soal Rumah Apung dan Program 1 Miliar per RW

Perihal Debat Pamungkas, JPPR: Berjalan Keras, Saling Serang, Tetap Subtansial
Persaingan Elektabilitas Cagub DKI Jakarta Terbaru Versi Indonesia Network

Komentar

To Top