Ruhut Sitompul/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews
Ruhut Sitompul/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews

Oleh: Dedi Noah*

NUSANTARANEWS.CO – Pilkada DKI putaran dua (19/4/2017) lalu telah usai. Dengan hasil final Anis-Sandi menang telak. Kemenangan unbelievable ini tentu menyakitkan bagi pendukung Ahok (Ahokers). Karena perhitungan dari aspek apapun paslon urut dua optimis menang mudah.

Tengok keunggulan dukungan logistik, SDM, parpol, media dan militansi simpatisan Ahok-Djarot tiada banding, semuanya unggul. Belum lagi bahasa tubuh ‘Ok’ penguasa ikut memperkuat dukungan, sehingga tidak mungkin paslon 2 jadi meradang dan pecundang. Hanya pengamat atau orang dungu saja yang meramalkan paslon 2 keok dalam Pilgub DKI kemarin.

Saking percaya diri (PD) dan optimis, dedengkot Ahokers, Ruhut Sitompul janji rela potong kupingnya, entah satu atau dua kuping, tak penting, yang jelas mau potong kuping jika paslon-2 kalah. Ini bukan fitnah dan provokasi, seperti yang sering dipraktekkan kelompok “anu” dalam memenuhi ambisi jagoannya. Tapi fakta yang bisa dilihat dalam tayangan Youtube yang sudah ditonton ribuan viewer. Janji itu benar Ruhut ucapkan, bukan isapan jempol belaka, 100% asli benar.

Tapi faktanya, seperti lagu “Janji Tinggal Janji” yang dinyanyikan Nia Daniaty, ternyata diterapkan secara sempurna oleh Ruhut Sitompul dalam menuntaskan taruhannya yang sudah kadung menasional ini. Ternyata ‘preet’ banget. Watak jual kecap dan kebohongan yang selama ini tayang rupanya sudah darah dagingnya, sehingga tanpa rasa salah, ia abaikan janjinya dan tanpa rasa sungkan ia keluarkan 1001 alasan. Ternyata maju terus pantang malu. Kalau tidak begini bukan Ruhut.

Rupanya watak seperti ini sudah menjangkit para Ahokers lain yang dikenal militan sampai mati dalam mendukung Ahok yang dicitrakan tegas, bersih, jujur dan membela rakyat kecil. Di benak pendukung Ahok, tertanam Ahok itu tidak salah, tidak korupsi, tidak kasar, tidak pemarah, tidak melanggar hukum dan tidak menista agama. Oleh karena itu, masyarakat Jakarta tidak kaget kalau Ahokers itu 1000% berada di depan Ahok untuk memenangkan kursi empuk Gubernur DKI yang APBD-nya lebih Rp 70 Triliun.

Kejanggalan Pendukung Ahok

Sebenarnya sejak lama banyak kejanggalan dari ulah pendukung Ahok. Mulai ribut-ribut kasus satu juta KTP, relawan tanpa pamprih dan bayaran, tebar sembako serta banyak lagi berkegiatan yang aneh tapi menyerempet kriminal, tapi itu absurd. No free lunch sudah mafhum dalam jagat perpolitikan, justru tanpa itu cuma kepura-puraan dan omong kosong yang memalukan.

“Siapa dapat apa” suatu keniscayaan dan jadi paket lumrah bila sama-sama berjuang untuk merebut kekuasaan. Makan siang gratis, cuma ada dalam dongeng sebelum tidur. Itu pun untuk anak-anak yang tak mendengar atau tuli. Oleh karena itu tak perlu bersilat lidah membantah bahwa pendukung Ahok “pure” tanpa syarat.

Sebagai pendukung Ahok dalam dunia demokrasi syah-syah saja. Tapi tidak boleh melepaskan rasionalitas dan kebenaran. Tanpa kedua hal tersebut akan menjadikan Ahokers sebagai pendukung fanatik yang buta nurani dan realita. Cita-cita boleh di langit tapi praktek tetap di bumi, sehingga fakta dan obyektifitas menjadi landasan utama bertindak.

Militan, gigih, tak kenal lelah dan PD bagian tak terpisahkan dari para Ahokers. Pagi ketemu pagi, otak dan sikapnya cuma buat Ahok, sehingga membentuk watak percaya diri dan berani demi Ahok. Apalagi didukung dan dibela pihak-pihak tertentu yang terkenal haus kekuasaan, gila jabatan, bisa “diuangkan” dan penjilat kekuasaan. Sempurna sudah!

Mengapa Susah Move On?

Tapi sayang, kondisi itu menjadikan Ahokers lupa daratan, cenderung menjadi sombong, mau menang dan benar sendiri alias egois. Akibatnya, tatkala Pilkada DKI tak sesuai harapan, apalagi kalah telak di semua wilayah Kodya DKI, membuatnya patah arang. Benci, kesal, jengkel dan tak percaya diri menghadapi realita. Inilah yang membuat Ahokers lunglai drastis dan merosot percaya dirinya serta malu move on ke habitat yang asli dan asri sesuai hati nuraninya.

Meski menghadapi kenyataan kalah, tapi karena sifat egois dan sombong terus berkobar, sehingga tetap tak mau mengakui kehebatan rival. Tetap saja berjiwa jumawa dan merendahkan pihak lain. Sikap ini sungguh bahaya dan riskan, karena masih menganggap dirinya hebat, paling benar dan tak bisa dikalahkan, akibatnya susah move on.

Oleh karena itu, kemudian tak aneh bila reaksi timbul drama bunga (self entertainment) demi  memelihara stamina mental guna menjagokan Ahok, meski pada 19 April 2017 lalu sudah tumbang di depan mata. Mereka masih tak percaya, ini realita, sehingga masih berkutat dengan kehebatan diri sendiri yang bisa merusak mental Ahokers sendiri.

Kini saatnya, Ruhut Sitompul dan ‘adik-adik’ Ahok untuk sadar dan menerima kekalahan sebagai keniscayaan. Disini dituntut kebesaran jiwa tiap individu agar bisa move on kembali ke jalan yang benar. Karena jalan mereka masih panjang untuk merajut masa depan yang gemilang. Oleh karena itu para Ahokers, meski para Boss, Penggede Partai, Direktur, Manager, Producer, Atasan, Konsultan, Senior sudah mulai melupakan kalian, janganlah bersedih diri terus menerus,  mulailah bangkit untuk menyongsong masa depan. Lupakan kepahitan kemaren dan segera hadapi masa depan dengan optimistik baru.

*Dedi Noah, Pemerhati Sosial Politik Tinggal di Jakarta

Komentar