Ekonomi

Industri Gula Nasional Belum Siap Bersaing Dalam MEA

Kereta Tebu
Kereta Pengangkut Tebu/Foto Antara

NUSANTARANEWS.CO – Pada zaman pemerintahan Hidia-Belanda, industri gula di pulau Jawa rendemennya bisa mencapai 14% sehingga pemerintah bisa melakukan ekspor gula. Nah, dewasa ini, memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ternyata industri gula nasional masih belum siap bersaing. Bila dilihat dari sisi harga saja, harga gula Indonesia boleh dikatakan adalah yang termahal di kawasan Asia Tenggara. Apalagi rendemen sekarang berkisar antara antara 6%-7%. Padahal para petani berharap rendemen bisa mencapai 11%-12%.

Sebagai catatan, saat ini, harga gula di dunia yang juga diikuti oleh negara-negara ASEAN lainnya cukup rendah yaitu dikisaran US$460 per ton. Sementara di Indonesia harga gula justru melambung, menurut situs info pangan.jakarta.go.id, harga gula pasir per Agustus 2016 di Jakarta rata-rata Rp15.953/kg, dengan harga tertinggi Rp17.000/kg dan terendah Rp 14.000/kg.

Sebagai bahan perbandingan kita bisa menengok India yang bisa menjual gula dengan harga Rp 3.400/kg. Menurut Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Kementerian Pertanian (Kementan), Syukur Iwantoro, tingginya harga gula di Indonesia lantaran proses produksinya yang tidak efisien ketimbang negara-negara produsen gula lain seperti India.

Berdasarkan pengalaman studi banding ke India, pabrik gula di sana bisa murah karena adanya industry hilirisasi yang multi output, bukan single output. Pabrik gula India bisa menghasilkan listrik besar dari sampahnya, tetesnya jadi etanol, gula jadi nilai tambah atau sampingan, terang Syukur. Itulah kenapa India bisa menjual gulanya hanya Rp3.400/kg, dibandingkan Indonesia. Karena pendapatan mereka dari etanol dan listrik sudah sangat besar,” lanjutnya.

Dengan situasi industri gula nasional yang kebanyakan masih tradisional konvensional seperti sekarang ini, tentu sulit bagi pemerintah untuk menekan harga gula, apalagi menstabilkan harga. Indonesia perlu belajar dari banyak negara produsen gula seperti Brazil, India, China, dan lainnya. Sehingga bisa membangun industri gula di tanah air yang efisien dengan nilai tambah produksi yang jauh lebih besar dari hasil gula itu sendiri.

Secara khusus untuk produksi listrik dan etanol, mantan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan ini sudah mengupayakan usulan regulasi baru tarif pembelian listrik oleh PLN dari limbah tebu, dan pembelian etanol dari tetes tebu oleh Pertamina.(Banyu)

 

Komentar

To Top