Ekonomi

Indonesia Terjebak Skema Jalur Sutra Baru Abad 21 China?

peta jalur sutra dan jalur sutra maritim china
Peta Jalur Sutra Maritim China/Xinhua

NUSANTARANEWS.CO – Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo seperti tak berdaya membendung arus kekuatan ekonomi China yang mengusung program ambisius berupa Jalur Sutra Maritim Abad 21, Satu Sabuk Satu Jalur (One Belt One Road) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Bahkan, pada tahun 2013 lalu, Presiden China Xi Jinping memilih Indonesia sebagai tempat untuk mendeklarasikan AIIB di depan Gedung DPR RI. Sebuah peristiwa besar yang sepertinya tak begitu banyak dipahami masyarakat Indonesia. Dan menyadari kekuatan China itu, Jokowi lantas mengusung visi Poros Maritim Dunia seperti mempertegas dukungan pada proyek Jalur Sutra Maritim Baru Abad 21 yang digagas China secara ambisius.

Sekadar diketahui, AIIB adalah lembaga keuangan dunia yang boleh dikatakan sebagai World Bank made in China guna membangun Jalur Sutera Maritim Abad 21. India, Jepang, Korea Selatan serta negara Eropa Barat seperti Jerman, Perancis, Inggris turut terlibat dalam pendirian World Bank versi Cina ini. Dan sekali lagi, Indonesia menjadi negara tempat dibangunnya sejumlah infrastruktur yang dibiayai China dengan skema utang.

Terlepas dari itu, seperti ulasan Nusantaranews sebelumnya bahwa China hendak membangun koridor ekonomi skala global yang membentang lebih dari 60 negara. Misinya, yakni mengintegrasikan negara-negara Asia, Eropa dan juga Afrika, baik darat maupun lautnya yang masuk dalam skema Jalur Sutera Baru Abad 21. Sederhananya, China ingin menggabungkan seluruh negara-negara sepanjang Jalur Sutra ke dalam Imperium China Baru.

Melihat kondisi perekonomian China yang disebut-sebut terus mengalami perbaikan dan peningkatan cukup signifikan di tengah-tengah lesunya kondisi perekonomian dunia.

Menyadari melemahnya kondisi perekonomian dunia, China tampil ambisius dengan mengambil inisiatif One Belt One Road sebagai sebuah skema untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi regional, secara terintegrasi, dalam cakupan wilayah yang lebih luas. Skema Belt and Road Initiative berbeda dengan skema perdagangan bebas, terutama dalam soal integrasi ekonominya. Koneksitas dalam Belt and Road Initiative meliputi 5 hal, yakni konsultasi kebijakan, konektivitas infrastruktur, perdagangan bebas, sirkulasi mata uang lokal, dan hubungan people-to-people. Dan sudah berulang kali Xi Jinping menegaskan bahwa posisi Indonesia sangat dan teramat penting bagi keberhasilan China membangun Jalur Sutra Maritim Abad 21 (doktrin Maritime String of Pearl).

Terlepas dari itu, menjalin kerjasama ekonomi dengan China tentu penting juga bagi Indonesia. Hanya saja, pemerintah Indonesia juga tidak boleh memandang sebelah mata posisi pertahanan dan lembaga-lembaga seperti Bappenas dan Kemenkeu harus memiliki visi pertahanan. Sebab, menghadapi agresifnya China dalam menjalankan program Jalur Sutra Maritim Abad 21-nya, penguatan alutsista TNI AL merupakan sebuah keniscayaan karena toh Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia.

Untuk memastikan Indonesia benar-benar siap masuk dalam percaturan China, TNI mempunyai peranan penting dalam membangun kestabilan dan keamanan regional guna memelihara keseimbangan di antara negara-negara berkepentingan yang dikendalikan oleh kekuatan dari luar wilayah. Indonesia harus bisa meningkatkan hubungan, menyebarkan gagasan, dan melontarkan inisiatif terwujudnya “U-shape line area” sebagai zona ASEAN dan China SPR (Strategic Petroleum Reserve) dan terciptanya ASEAN-China Maritime Security Initiative pada pengawasan dan patrol laut-udara di wilayah Laut Cina Selatan. Mengapa Laut China Selatan? Sebab, kawasan tersebut merupakan wilayah sentral bagi China untuk memuluskan program Jalur Sutra Abad 21. Dan Indonesia sudah diseret dalam konflik kawasan strategis tersebut dengan sejumlah insiden yang terjadi di Perairan Natuna.

Selain pertahanan, Indonesia juga harus mulai berbenah guna mempersiapkan diri secara matang dalam berbagai aspek. Ditambah lagi masuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), merupakan alasan lain mengapa Indonesia harus kuat dalam segala bidang, termasuk memperkuat diplomasi, good governance, pemberantasan korupsi, serta pembangunan ekonomi yang kuat dan berbudaya. (eriec dieda)

Komentar

To Top