Connect
To Top

Indonesia Poros Maritim Dunia, Antara Harapan dan Kenyataan

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang tengah berlangsung di Jakarta hingga hari ini Selasa (7/3/2017) harus mampu dimanfaatkan oleh Indonesia dalam menegaskan posisinya sebagai negara yang memiliki daya tawar tinggi. Dengan kata lain, pemerintah harus dapat memaksimalkan posisi geografis dan geolokasi Indonesia di Kawasan Samudera Hindia sebagai salah satu poros lalu lintas perdagangan global.

Menjurut Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Rofi Munawar  menjelaskan jika situasi strategis ini bisa diterapkan, tentu akan mendorong pembangunan kawasan timur Indonesia yang secara karakteristik sangat mendukung menjadi tulang punggung dalam merealisasikan konsep tersebut.

Presiden Jokowi sendiri dalam sambutannya di KTT IORA membenarkan bahwa Samudera Hindia merupakan penopang ekonomi dunia. Dimana setengah perjalanan kontainer dan dua pertiga tangker energi melewati Samudera Hindia dan 2,7 miliar penduduk tinggal di kawasan IORA.

Beragam keunggulan tersebut selama ini belum mampu dioptimalkan dengan baik oleh Indonesia. Karenanya, road map maritim nasional yang terintegrasi di tingkat kawasan mutlak harus dimiliki negara. Dengan kata lain, Indonesia sebagai pusat maritim dunia perlu melakukan pengembangan di kawasan Samudera Hindia.

Sementara itu, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI), Arief Pranoto (2017) dalam sebuah artikelnya baru-baru ini menjelaskan bahwa geoposisi (silang) Indonesia diantara dua samudera dan dua benua, selain dinilai sangat strategis dalam perspektif (geo) politik global, tetapi ia dapat berubah menjadi “kritis” jika pemerintah tidak memanfaatkan faktor geopolitical leverage dimaksud.

Dirinya berpandangan bahwa sekurang-kurangnya ada beberapa hal yang harus dicatat sebagai titik strategis, yaitu selain sebagai sumber raw material bagi negara-negara (industri) maju, Indonesia merupakan pasar yang tak pernah kenyang karena faktor demografi. Apa saja barang impor niscaya dilahap habis oleh warganya. Ia juga merupakan tempat memutar ulang kelebihan kapital bagi negara-negara industri, selain lintasan Sealane of Communication/SLOC, jalur distribusi minyak, gas, barang dan jasa yang tak pernah sepi.

Yang paling dahsyat, lanjut Arief, sesungguhnya adalah choke points pada selat-selat dan perairan Indonesia. Namun justru poin ini yang tak pernah dibahas, diberdayakan apalagi diundang-undang (UU)-kan. Sekurang-kurangnya, dari tujuh selat strategis dunia, empat – harusnya lima –  diantaranya berada di Indonesia. Artinya, bila Indonesia menutup beberapa selatnya dengan alasan kepentingan nasionalnya terganggu, maka bakal heboh dunia. Ini bahan/materi bargaining yang dahsyat pada forum diplomasi baik tingkat global maupun regional.

Sedang titik kritis yang mutlak harus disadari bersama adalah, jika Indonesia lemah baik sebagai bangsa maupun negara, selain ia cuma dijadikan buffer zone (penyangga) bagi negara-negara imperialis kapitalis karena faktor-faktor strategis di atas. Juga yang rawan dari perspektif kritis tadi, kawasan Indonesia berbatasan dengan 3 negara asing di daratan dan 10 negara lain di lautan. Artinya apa, cukup banyak frontier – batas imajiner pengaruh pusat terhadap rakyatnya di perbatasan –  yang mutlak harus dikelola secara konseptual. Jika tidak, wilayah-wilayah perbatasan bisa lepas satu persatu.

Penulis: Romandhon

Komentar