Sarjana

NUSANTARANEWS.CO – Menyongsong globalisasi gelombang ketiga, Indonesia tidak boleh lagi gagal seperti globalisasi gelombang kedua di mana Indonesia terombang-ambing tanpa kepastian. Salah satu bidang strategis yang mesti dipersiapkan adalah dunia pendidikan. Ambil contoh misalnya perguruan tinggi yang sudah saatnya melakukan perbaikan perihal relevansinya guna menjawab tantangan kebutuhan industri kerja.

Tingginya angka pengangguran terdidik akibat tidak terpenuhinya tuntutan industri melahirkan ketimpangan-ketimpangan yang berujung pada kemiskinan. Pendiri LP3i, Syahrial Yusuf mengungkapkan bahwa salah satu tantangan dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi ialah membludaknya pengangguran terdidik akibat masih saja berharap besar pada ijazah dan gelar akademik sementara ketrampilan terabaikan. Sehingga, ujarnya, hal itu patut dijadikan sorotan penting untuk menghadapi pasar kerja masa depan mengingat pasar bebas juga mencakup persoalan tenaga kerja.

“Idealnya, perguruan tinggi itu harus relevan menghasilkan lulusan yang punya kompetensi sesuai kebutuhan industri. Gimana nggak makin membludak jumlah penganggurannya kalau lulusannya tak sesuai kebutuhan industri. Pasar bebas tenaga kerja semakin nyata antar-negara. Besarnya populasi Indonesia harusnya jadi kekuatan tersendiri menjadi pusat pabrik tenaga kerja unggulan agar eksodus tenaga kerja asing mampu diantisipasi. Maka dari itu, jangan heran kalau mereka (tenaga kerja asing) nyerbu kita kalau kita tak segera bersiap diri membenahi,” ujar Syahrial yang berkomitmen untuk memberantas pengangguran di Indonesia, Jakarta, (16/8/2016).

Kata dia, anggapan aman memiliki gelar akademik saja tak cukup dan tak jadi jaminan mendapat kerjaan impian. “Ijazah bukan segalanya lho ya,” kata dia. Bahkan tak heran lulusan sarjana hingga pasca sarjana pun masih banyak yang menganggur terkena imbas akibat tak memenuhi kompetensi dan keahlian sehingga enggan dilirik pasar kerja.

Perguruan tinggi sudah saatnya menyajikan pendidikan berbasis vokasional agar dapat berkontribusi meningkatkan tenaga kerja Indonesia, yakni mahasiswa menjadi tenaga kerja terampil siap pakai. Menaker, Hanif Dhakiri dalam suatu kesempatan baru-baru ini juga berkomitmen mendorong agar lulusan perguruan tinggi harus berorientasi dengan pasar kerja dengan memiliki kompetensi mumpuni.

“Semangat kompetisi menuntut kita, untuk meningkatkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu, harus terus-menerus melakukan evaluasi supaya mencapai revolusi sehingga tidak menghasilkan penggangguran berijazah serjana dan pendidikan vokasi itu sangat penting, kata Hanif di Jakarta, Senin, ( 8/8) lalu. (eriec dieda)

Komentar