Dramatic Class di era Kapitalisme Globalisasi Gelombang Ketiga/Ilustrasi Foto: rifdoisme.wordpress.com
Dramatic Class di era Kapitalisme Globalisasi Gelombang Ketiga/Ilustrasi Foto: rifdoisme.wordpress.com

NUSANTARANEWS.CO – Penulis sekaligus Futurist asal Amerika Alfin Tofler menyatakan bahwa, dunia berkembang secara cepat, yang awalnya hanya masyarakat yang sangat sederhana (agraris), kini telah berubah menjadi super canggih dan sangat maju (masyarakat informasi). Kemampuan manusia untuk menjawab tantangan alam dan kemampuannya menggunakan seluruh kemampuan otaknya menjadikan manusia benar-benar menjadi penguasa dunia.

“Negara-negara yang menguasai teknologi dan informasi benar-benar menjadi penguasa dari sekian ratus juta umat manusia karena kepandaiannya,” tegas Alfin Tofler dalam bukunya, “The Future Shok ‘Third Wave'” (1980).

Alfin Tofler juga menyebutkan, Indonesia dalam kedudukannya berada pada posisi ketiga gelombang yakni gelombang pertama, gelombang kedua, dan gelombang ketiga. Indonesia masih masuk pada masa agraris, masuk juga kedalam gelombang industry dan juga menjadi bagian penting dari gelombang informasi.

Gelombang Pertama dalam kehidupan manusia perekonomian dimulai dari alam agraria yang dimulai sekitar ribuan tahun yang lalu, di mana setiap orang membuat produk mereka sendiri untuk konsumsi mereka sendiri dan ada sedikit atau tidak ada perdagangan antara rumah tangga.

Gelombang Kedua ini bercirikan masyarakat industri dan ini mempercepat ekonomi dengan menggunakan mesin dengan energi dari bahan bakar fosil seperti batubara, gas, dan minyak. Masyarakat Gelombang Kedua membangun struktur teknologi dan ekonomi berasumsi bahwa bahan bakar fosil dan melimpah.

Gelombang ketiga memiliki beberapa karakteristik seperti teknologi baru, Industri ruang, Mendekat dengan laut, Industri Genetik, Demasifikasi Media, Sebuah Memori Sosial Baru, dll.

“Kondisi geografis dan Luas wilayah Indonesia menyebabkan terjadinya perbedaan yang sangat mencolok antara masyarakat satu daerah dengan masyarakat lainnya. Kelompok masyarakat serta suku-suku di pedalaman Indonesia masih ada yang mencirikan masyarakat agraris. Baik yang primitive ataupun yang beradab. Sebagai contoh masyarakat di papua yang masih tertinggal dan mencirikan bahwa mereka itu adalah masyarakat agraris. Gaya hidup berburu dan meramu serta berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain masih bisa bisa ditemukan di Papua,” papar Alfin.

Sementara di pulau Jawa dikenal masyarakat suku samin atau pun badui dalam. Kedua suku ini bisa dianggap sebagai masyarakat gelombang pertama yang beradab. Hal ini dikarenakan kehidupan masyarakatnya sudah menetap, mengolah tanah dan bercocok tanam namun jauh dari dunia luar dan teknologi.

“Ciri masyarakat gelombang kedua pun masih banyak ditemukan di Indonesia, terutama di kota-kota pinggiran. Sebagai contoh kehidupan masyarakat di beberapa pusat Industri di Indonesia. Penerapan jam kerja, standarisasi upah kerja masih berlaku di kota-kota Industri di Indonesia. Selain itu, perilaku imperialisme berupa penguasaan industry oleh Negara adidaya masih berlaku di Indonesia. Sebagi contoh Freeport di Papua, Newmont di Nusa tenggara dsb,” katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, kehidupan masyarakat Indonesia terutama di pusat kota telah mencapai era informasi (gelombang ketiga). Kunci utama dari era informasi adalah fleksibilitas. Masyarakat Indonesia dapat mengakses informasi di berbagai tempat karena disediakannya jaringan internet di berbagai tempat seperti alun-laun, kantor, sekolah serta area publik lain.

“Jenis pekerjaan masyarakat Indonesia yang berdasarkan hoby mulai bermunculan seperti desainer, fotografer, seniman, dsb. Akses rakyat kepada pemerintahnya juga semakin mudah dikarenakan adanaya UU KIP serta pemilu langsung,” kata Alfin. (red-02)

Komentar