Connect
To Top

Indonesia Dalam Dinamika Internasional: China Sebagai Sumber Dinamika Internasional (Bagian 4)

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

NUSANTARANEWS.CO – Perkembangan China sebagai kekuatan ekonomi merupakan sumber dinamika internasional yang kuat sekali. Ekspornya yang besar berupa barang-barang yang relatif rendah harganya mempengaruhi seluruh dunia, termasuk masyarakat AS. Barang-barang yang diproduksi dan diekspor China makin lama makin luas jenis dan variasinya. Juga tingkat teknologinya makin tinggi, sehingga makin memojokkan produsen saingannya di mana-mana. Sebentar lagi mobil buatan China akan masuk pasar dunia.

Kalau China dapat mengulangi apa yang dilakukan Jepang pada tahun 1970-an, maka sukar kita perkirakan apa yang akan terjadi dalam persaingan otomotif dunia. Hal ini tentu akan menguntungkan kaum konsumen, khususnya di negara sedang brkembang. Akan tetapi bagaimana dampaknya pada kaum pemodal sukar diprediksi. Apalagi kalau China makin memasuki teknologi tinggi seperti pesawat terbang komersial dan lainnya.

Namun perkembangan ekonomi China , khususnya industri, mengakibatkan keperluan energi yang jauh lebih banyak. China makin berkepentingan dengan suplai minyak dari seluruh dunia mengingat besarnya volume yang diperlukan. Hal ini akan terus terjadi secara meningkat hingga pertengahan abad ke 21. Untuk itu sudah tampak usaha China mendekati pensuplai minyak di seluruh dunia.

Besarnya cadangan valuta asing yang diperoleh dari perdagangan internasional, maka besar memungkinkan China datang ke mana-mana sebagai investor atau pendukung. Cadangan valuta asing sebesar AS $ 825,6 milyar pada tahun 2005 hanya dikalahkan Jepang. Sebab itu China bergerak aktif ke segala penjuru dunia untuk menjamin suplai minyaknya. Termasuk ke Amerika Latin yang para pemimpinnya makin memusuhi AS.

Dengan begitu China memasuki kepentingan AS yang penting sekali yang sudah sejak abad ke 19 dicanangkan, yaitu dominasi AS atas Western Hemisphere atau Benua Amerika Utara dan Selatan. Ketegangan AS dan China makin kuat. Juga hubungan China yang makin erat dengan banyak negara Afrika pensuplai minyak, seperti Nigeria dan bahkan Sudan, amat merisaukan AS. Dilihat dari sudut itu sukar diprediksi apa yang dilakukan China kalau AS menyerang Iran, karena China amat berkepentingan dengan suplai minyak yang berasal dari Iran.

Dengan kekayaan yang makin meningkat dan bertambahnya kemajuan orang China dalam teknologi, maka China juga makin memperkuat kemampuan militernya. Yang paling spektakuler adalah kemampuan yang baru didemonstrasikan ketika China dapat meruntuhkan satelit dengan hasil baik pada bulan Januari 2007. Hal ini secara langsung terasa dampaknya bagi AS yang banyak sekali aspek kehidupannya tergantung dari satelit yang ditempatkan di orbit Bumi. Tetapi terutama hal itu menunjukkan tantangan bagi kekuatan pertahanan AS.

Pada bulan Maret 2007 pimpinan China menyatakan tekadnya untuk meningkatkan kemampuan militernya. Kekuatan militer China akan dibawa memasuki kemampuan “perang informative”, kata perdana menteri Wen Jiao Bao. Dengan sendirinya hal demikian juga memperkuat tekanan terhadap Taiwan. Ini semua makin meningkatkan ketegangan antara China dan AS yang masih tetap mengusahakan hegemoninya atas dunia.

Menjadi pertanyaan bagaimana perkembangan hubungan China dengan Jepang setelah Jepang makin menjadi “negara normal”. Ditambah lagi dengan segala hal yang yang mungkin terjadi di jazirah Korea, yaitu apakah akan ada unifikasi Korea atau sebaliknya peningkatan permusuhan antara kedua Korea. Kalau terjadi unifikasi Korea, kemungkinan besar negara baru itu akan jauh dari Jepang dan juga makin jauh dari AS. Logikanya, ia akan lebih dekat ke China. Tetapi kalau terjadi peningkatan permusuhan antara Korea Selatan dengan Korea Utara, maka AS dapat memperkuat posisinya di Korea Selatan yang merugikan posisi China. Apakah karena itu China akan terpaksa memperkuat Korea Utara, seperti pada tahun 1951, menjadi pertanyaan.

Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa kedua Korea makin dekat setelah Korea Utara bersedia meninggalkan proyek senjata nuklirnya. Tidak mustahil bahwa perkembangan ini mengarah kepada penyatuan kembali Korea mengingat kuatnya rasa patriotisme orang Korea, baik di Utara maupun Selatan. Pasti mereka menginginkan adanya negara Korea yang kuat dan bersatu dan makin mampu menghadapi baik China maupun Jepang atau AS berdasarkan kepentingan Korea semata. (red)

Komentar