NUSANTARANEWS.CO – One Belt One Road adalah sebuah proyek kebijakan ekonomi global yang paling ambisius – yang bertujuan untuk menghubungkan lebih dari 65 negara di Asia dan Eropa melalui pembangunan infrastruktur dalam skala besar. Dalam konteks turbulensi ekonomi global, Inisiatif Cina ini boleh jadi merupakan landasan bagi terbentuknya tatanan dunia baru yang akan segera terbentuk dalam satu atau dua dekade mendatang.

Dalam kegamangan dinamika situasi batas globalisasi gelombang ketiga, realisasi Inisiatif Cina ini mendapat beragam reaksi dari seluruh kawasan yang dilaluinya, terutama di kawasan benua India. Pakistan misalnya, memandang proyek infrastruktur tersebut akan merubah dinamika permainan di kawasan regional. Bagi Pakistan, pembangunan proyek infrastruktur koridor Ekonomi China-Pakistan secara radikal akan mengubah “persahabatan” bilateral menjadi kemitraan ekonomi yang lebih strategis.

Sementara India melihat program ambisius Beijing tentang pembangunan infrastruktur sangat berbeda dan penuh kecurigaan. Secara geopolitik, India memang merasa terkepung dan terancam oleh konektivitas inisiatif “One Belt One Road” Cina.

Oleh karena itu, keengganan India untuk terlibat lebih jauh dalam proyek infrastruktur tersebut dapat dipahami – terutama karena faktor ketidakpercayaan strategis. Selain India merasa terjepit di antara dua negara tetangga yang memiliki senjata nuklir. Pengalaman perang 1962 tampaknya masih segar dalam imajinasi India di mana Beijing telah menghancurkan tentara India yang tidak siap. Hingga hari ini, kedua negara masih berhadapan dengan warisan perang tersebut. Meskipun Beijing telah menyelesaikan sebagian besar masalah perbatasan daratnya dengan negara tetangga, Rusia, Pakistan dan Afghanistan, India tetap merupakan pengecualian.

Alasan lain yang membuat keraguan India adalah prakarsa koridor Ekonomi China-Pakistan. Terutama koridor yang menghubungkan Kashgar dengan Pelabuhan Gwadar di Balochistan –  berjalan melintasi Kashmir dan Gilgit-Baltistan yang diduduki Pakistan. Padahal keduanya di klaim oleh Delhi sebagai wilayah India. Ketika India setuju untuk bergabung dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), pemerintah India secara khusus membuat ketentuan dalam piagam bank bahwa “pembiayaan proyek di wilayah yang disengketakan harus mendapatkan persetujuan dari pihak-pihak yang bersengketa.”

Ketidakpercayaan strategis Delhi terhadap Beijing telah membuat para pemangku kebijakan India kesulitan untuk menerima inisiatif One Belt One Road dalam bentuknya yang sekarang. Terutama dengan tidak adanya “blue print” atau detail rinci menyangkut rencana operasional setelah tiga tahun berjalan. Kurangnya informasi spesifik membuat India bertanya-tanya apakah keseluruhan proyek Belt Road hanyalah permainan politik Cina saja. Oleh karena itu, Beijing tampaknya harus merancang kembali Jalur Sutra baru bersama India guna mengatasi masalah defisit kepercayaan.

Penulis: Agus Setiawan

Komentar