Connect
To Top

Hutan Indonesia Jadi ‘Tulang Punggung’ Sektor EBT

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menjelaskan bahwa hutan Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk memenuhi kebutuhan sumber energi baru terbarukan (renewable energy). Menurutnya beberapa potensi energi baru terbarukan (EBT) hutan Indonesia meliputi sumber energi pemanas, bahan bakar nabati cair dan peneduh yang dapat mengurangi kebutuhan energi.

“Indonesia memiliki cukup banyak sumber energi terbarukan. Setidaknya terdapat delapan sumber energi terbarukan yang dapat kita manfaatkan, seperti biofuel, biomassa, panas bumi (geothermal), air, angin, matahari, gelombang laut dan pasang surut. Dari sumber-sumber energi tersebut, semuanya terkait langsung dengan keberadaan hutan dan lingkungan hidup,” kata Siti Nurbaya melalui siaran pers yang diterima redaksi, Rabu (22/3/2017) di Jakarta.

Dirinya juga menginformasikan bahwa saat ini Kementrian LHK tengah mengkaji kawasan hutan produksi yang dapat digunakan sebagai areal hutan tanaman dengan jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber energi biofuel dan biomassa. Diantaranya yaitu tanaman Sengon, Nyamplung, Akasia, Kaliandra dan Kemiri.

Sebagai informasi, mewujudkan masa depan energi bersih, telah menjadi agenda utama dan mendesak oleh beberapa negara-negara dunia. Ini dibuktikan dengan ekspansi besar-besaran dari proyek pembangkit listrik yang berkelanjutan diberbagai belahan dunia.

Negara-negara Eropa misalnya, tampak sangat ambisius untuk bersaing satu sama lain dalam capaian energi baru terbarukan (EBT) mereka. Tahun 2015 lalu, Denmark mampu menghasilkan 140 persen dari kebutuhan listriknya setiap hari dengan hanya memanfaat energi listrik bersumber dari turbin angin. Sisanya kemudian diekspor ke Norwegia dan Swedia.

Terbaru, pada Mei 2016 lalu, Jerman tengah benar-benar menjalankan energi bersih untuk kebutuhan harian masyarakatnya dengan memanfaatkan EBT dari turbin angin dan panel tenaga surya. Pada bulan yang sama, gerakan serupa juga dilakukan oleh Portugal.

Di negara tersebut untuk kebutuhan 107 jam perharinya atau sekitar empat setengah hari telah menggunakan energi terbarukan tenaga surya. Hal ini ditempuh sebagai upaya hemat energi sekaligus menciptakan iklim yang ramah lingkungan.

Penulis: Romandhon

Komentar