Ekonomi

Himpunan Pengusaha: Kedatangan Raja Arab Bisa Jadi Pintu Dana Tak Terbatas

Ketum BPP HIPMI, Bahlil Lahadalia/Foto: dok. kabarbisnis
Ketum BPP HIPMI, Bahlil Lahadalia/Foto: dok. kabarbisnis

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) menilai bahwa kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi ke Indonesia, sangat strategis untuk mendukung pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Sebab, kunjungan Raja Salman bisa dapat dijadikan pintu masuk bagi Indonesia untuk mengakses dana tak terbatas atau unlimited fund, dari Timur Tengah.

“Dalam konteks Indonesia yang sedang membangun infrastruktur, Arab Saudi dapat menjadi pintu masuk untuk mengakses unlimited fund di Timur Tengah,” ujar Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia melalui keterangan resminya di Jakarta, Selasa (28/2/2017).

Menurut Bahlil bahwa saailt ini pemerintah Indonesia membutuhkan dana besar untuk membangun infrastruktur. Selain Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), pemerintah juga telah mengeksplorasi pembiayaan non APBN atau PINA. “Melalui skema PINA ini, pemerintah dapat juga mengoptimalkan sumber pembiayaan dari Timur Tengah melalui Arab Saudi,” kata Bahlil.

Menurut dia, selain dari China dan Jepang, sumber pembiayaan dari Timur Tengah dapat menjadi alternatif utama bagi Indonesia. “Sebab, potensi dana dari Timur Tengah sangat besar,” katanya.

Lebih lanjut, selama ini dana-dana investasi dari Timur Tengah masih sangat mahal. Sebab dana tersebut terlebih dahulu tertahan di Malaysia dan Singapura. “Sebab, dua negara ini lebih gesit dari kita. Dua negara itu bilang investasi dari dia. Padahal dananya dari Timur Tengah. Makanya, kita tidak boleh kalah gesit dari Malaysia dan Singapura. Kita optimalkan kedatangan Raja Saudi Arabia,” ungkap Bahlil.

Selain itu, lanjut Bahlil, salah satu penyebab Timur Tengah belum melirik Indonesia untuk berinvestasi adalah belum terciptanya trust dan rasa nyaman para investor dari negara-negara Arab, untuk menanamkan dananya di Indonesia. Hal itu terlihat dari masih sedikitnya Perbankan Timur Tengah yang membuka cabangnya di Indonesia. “Coba ke Malaysia, Singapura dan Thailand. Ada cabang-cabang bank terbesar asal Timur Tengah, di mana-mana,” papar Bahlil.

Ia mengatakan, keberhasilan negara-negara tetangga itu memperoleh investasi dari Timur Tengah, tak terlepas dari keberhasilan mereka mengembangkan sistem keuangan syariah. “Bahkan, Singapura bisa menjadi hubungan lembaga keuangan Timur Tengah di kawasan Asia Tenggara. Mereka mampu menerbitkan Sukuk berskala internasional. Sedangkan proyeknya yang akan dibiayai, ada di Indonesia. Kenapa Singapura bisa, kita tidak?” jelas Bahlil.

Oleh karena itu, ia menilai sudah saatnya Indonesia melakukan upaya bypass agardana-dana Timur Tengah langsung mengendap di Indonesia dan membiayai berbagai proyek infrastruktur, pertanian, dan pariwisata di Indonesia. “Kuncinya, dalam membangun hubungan dengan negara-negara kaya di Arab adalah membangun rasa nyaman dan trust,” kata dia.

Terlebih, tambah Bahlil, Indonesia dan Arab Saudi memiliki kesamaan dalam hubungan emosional keagamaan. “Juga, hubungan historis yang sangat baik dengan pemerintah dan rakyatnya. Jadi ada pendekatan pribadi atau kultural, kemudian baru disusul pendekatan komersil atau industrialis. Ini bedanya kita dengan bangsa-bangsa barat,” tutur Bahlil. Maka dari itu, Bahlil berharap pemerintah mampu membangun hubungan kultural lebih erat dengan Arab Saudi, setelah kedatangan Raja Salman ke Indonesia.

Reporter: Richard Andika

Komentar

To Top