Hakekat Pancasila adalah hidup dalam Kebersamaan/Ilustrasi: NUSANTARAnews
Hakekat Pancasila adalah hidup dalam Kebersamaan/Ilustrasi: NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Sayidiman Suryohadiprojo menyatakan bahwa, satu tujuan penting dalam kita bernegara Republik Indonesia adalah menjadikan Dasar Negara Pancasila kenyataan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Bung Karno berkata, Pancasila kalau diperes adalah Gotong Royong. Maka menjadikan Pancasila kenyataan berarti membangun Masyarakat Gotong Royong.

“Namun pada waktu ini sifat gotong royong dalam masyarakat Indonesia sudah tidak ada, lenyap karena perbenturan dengan bangsa-bangsa lain dan khususnya karena penjajahan begitu lama oleh bangsa Barat. Maka bangsa Indonesia yang sudah 70 tahun merdeka perlu membangun kembali sifat gotong royong dalam kehidupannya. Harus ada perubahan mental yang membuat Manusia Indonesia bersifat gotong royong,” papar Sayidiman dalam artikel seperti dikutip nusantaranews, Kamis (2/1/2017).

Sayidiman menegaskan, hakekat Pancasila adalah hidup dalam Kebersamaan. “Kita sebagai manusia Indonesia beda satu sama lain, tetapi pada saat sama kita satu karena hidup dalam Kebersamaan. Maka Masyarakat Gotong Royong hidup dalam harmoni Perbedaan-Kesatuan, yaitu Kebersamaan dan Kekeluargaan. Maka Manusia Indonesia mengejar excellence untuk diri sendiri maupun untuk menjadikan Masyarakat Indonesia maju dan sejahtera,” sambungnya.

Menurut dia, bersamaan dengan pembangunan Manusia juga diusahakan pembangunan Masyarakat yang sesuai Pancasila. Ini harus dimulai dengan mempunyai Konstitusi yang benar-benar sesuai Pancasila. Karena UUD 1945 selama Reformasi sudah di-amendemen 4 kali sehingga tidak lagi sesuai Pancasila, maka perlu ada Kaji Ulang atas UUD 1945 sehingga kembali sesuai Pancasila.

“Juga Masyarakat Gotong Royong harus makin menghilangkan Kemiskinan sebagai kelemahan bangsa. Terutama lebarnya kesenjangan antara golongan kaya yang sedikit jumlahnya dan golongan miskin yang banyak sekali. Mengusahakan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai Produksi Nasional tingg perlu, akan tetapi harus selalu dibarengi dengan distribusi pendapatan yang merata sehingga terus mengurangi kesenjangan antara golongan kaya dan miskin,” ungkapnya.

Dengan demikian, kata Sayidiman, Ekonomi dikembangkan berdasarkan Kekeluargaan dan Kebersamaan, menolak sistem ekonomi liberal dan neo-liberal yang hanya mementingkan golongan sedikit yang amat kaya serta amat memperlemah bangsa Indonesia, malahan memperkaya pihak asing.

Masyarakat Gotong Royong diliputi toleransi tinggi terhadap Perbedaan yang ada dalam Kebersamaan, menolak radikalisme dan penggunaan kekerasan. Dalam hubungan dengan bangsa lain mengusahakan peningkatan kesejahteraan dan perdamaian umat manusia dengan selalu menjunjung tinggi kepentingan nasional Indonesia.

Ditegakkan Hukum Nasional yang mengikat seluruh bangsa agar NKRI benar-benar menjadi Negara Hukum. Dengan itu menjadikan Kedaulatan Bangsa sepenuhnya di tangan Rakyat, berupa pelaksanaan demokrasi politik , demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial yang secara nyata menegakkan Keadilan. Dengan berlakunya Hukum secara kuat secepat mungkin diberantas Korupsi yang telah begitu berat merusak kondisi sosial bangsa.

“Hal ini semua tidak mungkin dicapai selama kondisi mental bangsa Indonesia seperti sekarang. Nyatanya banyak Manusia Indonesia sekarang tidak hanya bersifat individualis bahkan egois, amat dipengaruhi materialisme yang negatif. Ini semua jauh dari gotong royong,” ujar Sayidiman.

Untuk itu, tambahnya, untuk perubahan Mental diperlukan dukungan Pendidikan yang bermutu, meliputi Pendidikan dalam Keluarga, Pendidikan Sekolah dan Pendidikan dalam Masyarakat. “Pendidikan yang membentuk Manusia dan Masyarakat Indonesia yang tinggi mutunya, baik moral, mental, spiritual, intelektual, maupun dalam menegakkan Kebersamaan dalam kenyataan kehidupan,” kata dia. (sule)

Komentar