Sosial Media/Ilustrasi via AWstreams
Sosial Media/Ilustrasi via AWstreams

NUSANTARANEWS.CO – Seorang sopir truk kelelahan setelah menyopir dari pulau Sumatra menuju pulau Jawa. Keluar dari pintu tol Cikampek, dia pinggirkan truk untuk beristirahat. Tidak jauh dari tempat truk berhenti, sekitar 500 meter di depan terdapat pertigaan. Arah ke kiri menuju Cirebon, arah ke kanan menuju Subang.

Baru saja sopir akan tertidur, pintu truk diketuk. “Maaf Pak, mau tanya arah ke Cirebon belok kiri atau kanan?” tanya seorang pengguna jalan.

“Belok kiri,” jawab sopir agak malas. Sopir kemudian melanjutkan tidur. Baru saja terlelap, pintu truk kembali diketuk.

“Maaf Pak, mau tanya arah ke Cirebon lewat mana ya?” tanya pengguna jalan lainnya. “Belok kiri,” jawab sopir masih malas-malasan.

Merasa terusik dengan pertanyaam pengguna jalan, sopir kemudian menulis di atas kertas: ‘Cirebon Belok Kiri’, dan menempelkannya di pintu truk, dengan harapan tidurnya tidak diganggu lagi oleh pengguna jalan yang ingin bertanya. Namun baru saja akan tertidur, pintu truk kembali diketuk.

“Maaf Pak, mau tanya arah ke Subang belok kiri atau kanan?” tanya pengguna jalan. “Belok kanan,” jawab sopir sambil menguap ngantuk.

Merasa jengkel tidurnya diganggu dan menyadari pengalaman sebelumnya dibangunkan oleh pengguna jalan lainnya, sopir truk berinisiatif menulis; ‘Saya Tidak Tau Arah Ke Cirebon dan Arah Ke Subang’. Tulisan itu kemudian ditempel di pintu truk.

Namun baru saja sopir akan tertidur, pintu truknya kembali diketuk. “Maaf Pak, saya ingin membantu beritau Bapak. Arah ke Cirebon belok kiri, arah ke Subang belok kanan,” ujar seorang pengguna jalan yang berniat membantu setelah membaca tulisan di pintu truk.

Sopir yang sudah letih berat dan ngantuk hebat kesal tidak karuan. Aaarrggghhhhh…..

Sepenggal kisah itu mirip dengan beberapa status facebooker yang menghina ulama atau agama dan diposting di media sosial belakangan ini. Penulis (author) yang membuat status di facebook sebagai pemilik akun tidak dapat lagi mengontrol tulisannya (text) setelah netizen atau khalayak media sosial (reader) membacanya. Inilah yang saya sebut sebagai hermeneutika media sosial.

Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi (penafsiran) makna. Nama hermeneutika diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani, Hermeneuien yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan.

Sopir sebagai author menulis; ‘Saya Tidak Tau Arah ke Cirebon dan Arah Ke Subang’, dengan maksud tidak ingin diganggu dengan pertanyaan pengguna jalan lain. Tapi saat tulisan itu masuk area publik, tulisan itu tidak bisa lagi dikontrol sopir truk. Walaupun dia yang menulisnya (sebagai author). Sebagai teks, tulisan itu punya otonomi sendiri dan ‘dapat berbicara sendiri’. Sementara pengguna jalan sebagai pembaca tulisan (reader) juga punya otonomi menafsirkan berdasarkan tulisan yang dibacanya.

Beberapa orang facebooker yang menulis status di laman facebook-nya juga demikian. Mungkin saja mereka tidak berniat menghina ulama atau agama (Islam). Bisa jadi cuma iseng, bercanda atau bahkan memang ingin berpendapat (memberi opini) demikian. Tapi saat teks tulisan itu dibaca orang banyak, orang banyak kemudian memiliki tafsir yang berbeda dari keinginan penulis, maka muncullah konflik.

Jika hanya perbedaan tafsir, hal ini justru bagus untuk memperkaya perspektif kita dalam melihat realitas. Namun banyak netizen atau facebooker tidak menyadari dengan baik bahwa teks juga bisa dibaca atau ditafsir dengan konteks.

Misalnya status seorang dokter di Solok, Sumatera Barat sebagai facebooker dengan tulisan teks di fb seperti ini;

“Masih ada yang berkoar kalau ulama mesumnya kena fitnah, loh dianya kabur. Mau ditabayyun polisi beserta barbuk (barang bukti) aja nggak berani.”

Sebagai teks, status itu mudah sekali dibaca dengan konteks. Konteksnya Habib Rizieq berada di luar negeri saat dicari polisi untuk diperiksa karena chat mesumnya. Atau status seorang facebooker, mahasiswa di Dumai, Riau yang menulis teks di fb seperti ini:

“Teriak Teriak Take beer!!! Teriak teriak Take Beer!! Giliran dipanggil polisi malah kabur ke sana sini. Hahahanjheng TAKE BEER!!!” (emoji minuman dalam gelas).

Sebagai teks, status itu juga mudah sekali dibaca dengan konteks, bahkan lebih kuat ke arah penghinaannya. Konteksnya, Habib Rizieq berada di luar negeri saat dicari polisi untuk diperiksa karena chat mesumnya. Saat ceramah Habib Rizieq (dan mungkin ulama lain) kerap mengucapkan Takbir yang diplesetkan menjadi (maaf) take beer. Untuk diketahui, bir merupakan minuman yang diharamkan dalam Islam.

Banyak netizen atau facebooker tidak menyadari, menulis status di media sosial itu seperti “berteriak di pusat keramaian orang”, mirip berteriak di pasar. Bahkan lebih besar dampaknya. Jika berteriak di pasar hanya sekali, bisa dilupakan dan tidak berbekas kecuali dalam ingatan dan hanya orang di pasar yang mengetahuinya.

Tapi di media sosial, ‘teriakan’ (tulisan) itu bisa diketahui orang sedunia dan bisa dilacak jejak digitalnya. Oleh Zappavigna dan Michele (2012) inilah yang disebut sebagai searchable talk (percakapan yang bisa dicari). Proses pencarian itu disebut sebagai digital identity (Thomborrow, 2015).

Bagaimana mungkin seseorang menulis pendapat mereka sebagai status yang tidak mungkin mereka nyatakan atau sampaikan sehari-hari dalam kehidupan normal mereka? Studi Suller (2004) menyebut fenomena ini sebagai “online disenhibition effect”. Yaitu dampak sikap anti sosial di media online seperti media sosial. Menurut Hogg dan Vaughan, (2011) disinhibis itu tahap awal yang akan mengarah pada proses dehumanisasi (merusak tatanan kemanusiaan).

Jadi sebaiknya jangan menganggap sepele memuat status di media sosial yang cenderung menista atau menghina ulama dan agama. Membenci dan mencintai itu hak privat. Cukup dinikmati sendiri atau di kalangan terbatas atau tertutup. Janganlah kebencian diumbar ke media sosial. Apapun alasannya, sebaiknya jangan lakukan itu karena sesungguhnya dia akan merusak hakikat kemanusiaan.

Ini juga penting dijelaskan bahwa rasa benci dan bersikap kritis itu berbeda. Rasa benci didasari oleh rasa tidak suka dan penuh permusuhan. Bentuknya bisa berupa menghina atau merendahkan, umumnya bersifat menyerang personal. Sedangkan sikap kritis didasari pada semangat perbaikan melalui suatu koreksi dengan menggunakan nalar, argumen, data atau bukti yang diajukan.

Mengingat situasi yang semakin tidak sehat di media sosial saat ini, kita butuh semacam literasi virtual atau literasi digital (kecerdasan bermedia sosial). Sebab, tidak pandang bulu, mau Dokter, Doktor atau Profesor warga biasa atau pejabat lembaga, saya cermati memang terkadang sering offside dalam kehidupan media sosial mereka. Ingin saja rasanya memberi training literasi media sosial, agar kehidupan kita kembali normal. Tapi apa mungkin, mengingat para pemimpin kita saat ini juga merupakan produk dari media sosial?

*Iswandi Syahputra, penulis adalah Komisioner KPI periode 2013-2016 dan Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Komentar