Cover Pedoman Sumpah Pemuda 1928 - 2016/Ilustrasi by Humas Kemenpora
Cover Pedoman Sumpah Pemuda 1928 - 2016/Ilustrasi by Humas Kemenpora

NUSANTARANEWS.CO – Hari Sumpah Pemuda rupanya sudah memasuki usia 11 Windu alias 88 (delapanpuluh delapan) tahun. Usia yang terbilang tua dalam usia normal manusia. Dalam usianya yang ke-88 sudahkan bait-bait Sumpah Pemuda terimplementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?  Sebelum menjawab, baik kiranya apabila masuk ke dalam diri, mempertanyakan kesetiaan diri terhadap tanah tempat lahar, terhadap air yang diminum.

Dalam pikiran paling sederhana, Sumpah Pemuda memiliki makna menyatukan atau penyatuan segenap bangsa di atas bumi pertiwi yang berbeda suku, bahasa, dan agama. Bersamanya, semangat patriotik dan jiwa nasionalisme dibangkitkan atas nama nusa dan bangsa, yakni Indonesia.

Mari kita baca lagi dengan hati dan penuh penghayatan Sumpah Pemuda yang ditulis oleh Moehammad Yamin dan dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang lalu. Sumpah Pemuda:

    “Satu: Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia.
    Dua: Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia.
    Tiga: Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Ketiga bait sumpah tersebut, jika sudah tertanam dalam hati dan jiwa, maka pikiran setiap anak yang lahir di Indonesia, hanya akan bekerja untuk kebaikan hidup segenap bangsa Indonesia. Keadilan sejak berpikir hingga tindakan tentu tidak akan menjadi angan-angan dan keinginan hampa. Bahkan, cita-cita luhur memberdayakan hidup bangsa Indonesia diantara bangsa-bangsa dunia niscaya menjelma kenyataan. Tentu dengan satu syarat utama, yakni memupuk rasa patriotisme dan nasionalisme dengan tindakan yang kreatif dan produktif.

Semua membaca, mendengar, dan nyaris turut serta menyuarakan saban tahun, bahwa bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme. Mari kita bertanya pada diri sendiri, sebagai pemuda (dalam konteks sumpah pemuda) sudah murnikah cinta tanah air yang diucapkan lidah. Tulus sicikah kata cinta tanah air yang diserukan. Benarkah ia lahir dari lubuk hati atau sekedar ungkapan gombal yang diproduksi oleh pikiran-pikiran spekulatif dan diplopmatis ala politisi?

Sumpah Pemuda sebagai puisi paling rasional pada masanya (bahkan sekarang) mampu membakar keegoan setiap golongan di tanah air. Sebab, bait-baitnya tidak hanya menjadi ucapan, melainkan menjadi daya hidup dan semangat juang untuk satu cita-cita, yaitu kemerdekaan Indonesia. Kini, di Hari Sumpah Pemuda ke-88, pemuda-pemudi Indonesia harus bangkit menyongsong hari depan Indonesia seperti yang dicita-citakan para pejuang terdahulu.

Kebangkitan pemuda hari ini harus menjadi keniscayaan, sebab setiap pemuda -bahkan sejak lahir- telah mengembang tugas dan kewajiban untuk menjaga tanah air bernama NKRI lengkap dengan Pencasila dan UUD 45-nya. Sungguh tidak ada alasan untuk berpaling dari panggilan untuk mengabdi pada ibu pertiwi, terkecuali hanya pemuda-pemuda yang akan menggadaikan Indonesia dan menjual bangsa menjadi buda asing.

Disamping alasan panggilan ibu pertiwi, kebangkitan pemuda kali ini adalah penanda lahirnya generasi baru untuk memperjuangkan bangsa dan negara. Dimana generasi reformasi 1998 diusianya yang ke-18 ini, rupanya belum memberikan perubahan berarti bagi bangsa dan negara. (Cinde Cemeng)

Komentar