Berita Utama

Hari Pers Nasional, Bung Karno: Wartawan Pekerjaan Gawat Sekali

Sukarno saat jumpa pers/Foto: Dok. gahetna.nl
Sukarno saat jumpa pers/Foto: Dok. gahetna.nl

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Atas permintaan Mahbub Djunaidi, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia, seorang wartawan senior yang sering disebut Pendekar Pena Betawi, Sukarno telah bersedia mengadakan ramah-tamah dengan para wartawan di Istana Bogor, 20 November 1965. Dalam jumpa pers itu Sukarno mendorong para wartawan agar meningkatkan kemampuannya dengan pengetahuan.

“Wartawan-wartawan Indonesia ini perlu upgrading. Saya minta kepada semua wartawan-wartawan Indonesia. Banyaklah membaca,” ujar Sukarno saat Revolusi Belum Selesai seperti yang dilansir dari Historia.

Presiden RI ke-1 Sukarno meminta para wartawan agar jangan membuat tulisan yang mendorong bangsa kepada self destruction(kehancuran), sebagaimana perkataan Toynbee dan Gibbon, a great civilization never goes down unless it destroys itself from within. Satu peradaban besar tidak akan bisa turun, tidak akan bisa tenggelam, kecuali jikalau peradaban itu merusak dirinya sendiri dari dalam, merobek-robek dadanya sendiri dari dalam.

Sebab, Sukarno tempo itu prihatin dengan tulisan-tulisan wartawan yang mengarah ke self destruction dan berjiwa gontok-gontokan, gebug-gebugan, bakar-bakar semangat.

“Nah, saudara sebagai wartawan, saudara punya pekerjaan itu sebetulnya gawat sekali. Oleh karena sampai sekarang ini apa yang ditulis di surat kabar dipercaya. Het volk gelooft het (rakyat percaya),” kata sang proklamator itu.

Sukarno mencontohkan kala itu mengingat sebuah berita mengenai perempuan hamil oleh ular. “Saya bilang nonsense!” Namun, pembaca yang mempercayainya menyatakan, “Kapan parantos diserat, di serat kabar, kan sudah ditulis di surat kabar.”

“Nah, saudara-saudara, inilah kegawatan pekerjaan saudara-saudara,” Sukarno mengingatkan para wartawan: “Jangan sampai saudara-saudara mengeluarkan satu perkataan pun dari tetesan pena sudara yang tidak berisi satu kebenaran. Oleh karena tiap-tiap tetesan pena saudara dipercayai oleh pembaca.”

Waktu itu, setiap partai besar memiliki corong media. “Jangan saudara dalam memegang pena itu lebih mengutamakan partai saudara daripada bangsa. Saudara sebagai wartawan itu sebetulnya bukan wakil partai, tetapi ialah wartawan daripada bangsa Indonesia. Wartawan daripada Revolusi Indonesia.”

Selain itu, Sukarno sangat mengkhawatirkan dan mengecam wartawan yang menulis berita fitnah. “Tanggungjawab saudara adalah tinggi sekali. Karena itu jangan sampai tulisan saudara itu sebetulnya adalah fitnah.”

Menurut dia, dari segala macam kejahatan, fitnah yang terjahat. Agama apapun tidak membenarkan fitnah. “Moral agama harus kita pegang tinggi, moral agama antara lain melarang, menjaga jangan sampai kita menjalankan fitnah,” tutur Sukarno.

Penulis: Richard Andika
Sumber: Historia.id

Komentar

To Top