Budayawan Butet Kertaradjasa

NUSANTARANEWS.CO – Budayawan Butet Kertaradjasa tidak setuju dengan kenaikan harga rokok yang mencapai 3 kali lipat. Menurutnya, hal itu sangat tidak masuk akal.

“Saya sebagai konsumen kalau ada kenaikan yang wajar saja. Naik 50 persen ndak apa-apa. Masih mampu lah konsumen membeli. (Rp50 ribu) itu ndak rasional,” katanya, Kamis (24/8).

Kenaikan harga rokok yang tinggi, kata Butet, akan memiliki dampak serius. Mulai dari munculnya rokok ilegal atau non cukai, hingga mematikan industri rokok dalam negeri. Bahkan ia menyebut, pemerintah sama saja akan mematikan budaya. “Kretek kan produk ungulan. Mematikan kebudayaan,” katanya.

Menanggapi rokok Indonesia paling murah di dunia, menurut Butet justru malah merasa aneh. Sebab, sesuatu yang murah malah menjadi masalah.

“Murah itu harusnya disyukuri. Murah itu memihak rakyat. Masa rakyat mau dianiaya dengan harga mahal,” tegasnya.

Pria kelahiran Yogyakarta, 21 November 1961 silam ini mengatakan, dengan kenaikan harga rokok sebenarnya bukan petani yang mati, tapi masyarakat lah yang mati karena dampak ekonominya keĀ  mana-mana. Menurutnya, wajar bila sebuah industri mencari untung. Tapi kalau alasan kesehatan, Butet nampaknya tidak percaya sepenuhnya.

“Kalau alasannya kesehatan, kebanyakan makan nasi bisa jadi diabetes, apa nasi dilarang. Logikanya di mana? Lalu asap, asap jadi persoalan sekarang seluruh mobil itu ndak boleh jalan, ndak usah jalan, itu kan ndak adil,” kata dia.

“Pemerintah kalau mau cari duit yang kreatif jangan menyiksa rakyat,” imbuhnya.

Menanggapi dana asing yang masuk kepada para aktifis penolak rokok, Butet mengatakann saat ini memang sudah dimulai perang dagang internasional. Jika rokok kretek ditutup, maka barang baru seperti rokok elektrik akan masuk dan diperjualbelikan. Ia pun akan melawan jika kebijakan baru ini keluar dan nyatanya akan merugikan rakyat.

“Lawan kebijakan yang ngawur, yang rugikan rakyat dilawan,” tandasnya. (rafif/achmad)

Komentar