Direktur PT Pertani (Persero), Wahyu Suparyono/Foto Richard Andika/ Nusantaranews
Direktur PT Pertani (Persero), Wahyu Suparyono/Foto Richard Andika/ Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Produk bawang putih yang beredar di Indonesia kini 95 persen merupakan produk impor. Bawang putih itu mayoritas dipasok dari Cina dan India.

Hal ini terjadi akibat sejak 1998, pemerintah tidak mengontrol dan pegang kendali perihal impor bawang putih ini. Bahkan hal ini juga membuat Indonesia me jadi ketergantungan pada impor bawang putih.

Akibatnya, petani Indonesia menjadi malas menanam bawang putih karena harganya yang kalah bersaing dengan produk impor.

Direktur PT Pertani (Persero), Wahyu Suparyono mengatakan, ada beberapa faktor yang telah membuat Indonesia masih bergantung pada impor bawang putih. Hal itu karena tak banyak petani yang memproduksi bibit bawang putih.

“Ketika memproduksi benih bawang putih maka tidak ada pembelinya, karena sedikit sekali petani yang berminat menanam bawang putih,” kata Wahyu di Kantor Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Jumat, 19 Mei 2017.

Menurutnya, petani jadi enggan menanam bawang putih karena harus bersaing dengan produk impor yang notabene harganya jauh lebih murah.

“Kenapa tidak banyak yang tanam? Karena tergilas oleh bawang putih impor. Impor faktanya lebih murah, kalau itu (impor) diteruskan maka bawang putih itu tinggal nama, bahwa petani Indonesia pernah menanam bawang putih. Itu kan yang di khawatirkan,” ucap Wahyu.

Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan aturan regulasi baru dalam Permentan Nomor 86 Tahun 2013 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) yang mewajibkan importir menanam terlebih dulu, minimal 5 persen dari kuota impor selama setahun.

Dalam pelaksanaannya, importir bisa bermitra atau kerjasama dengan petani. Sedangkan untuk benihnya, Kementan telah menunjuk PT Pertani (BUMN) untuk menyediakan bibit bawang putih yang akan ditanam importir tersebut.

“Penanaman bawang putih yang dilakukan oleh siapapun, harusnya didukung oleh benih unggul yang bagus. Dan kami juga punya kewajiban memberikan benih itu,” tandas Wahyu.

Pewarta: Richard Andika
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar