NUSANTARANEWS.CO – Ketersediaan serta harga listrik dan gas amat berpengaruh terhadap daya saing industri. Kementerian Perindustrian memaparkan, kebutuhan gas mencapai 2.280 million metric standard cubic feet per day (mmscfd), harus diiringi dengan rendahnya harga.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengakui harga gas untuk sektor industri sangat mahal di kisaran 6 sampai 10 dollar AS per MMBTU (Million British Thermal Unit/sejuta satuan panas inggris). Ia pun ingin menekan harga gas menjadi 4-5 dollar AS per MMBTU.

“Idealnya harga gas untuk industri dapat dipatok pada harga 4-5 dollar AS per MMBTU,” ujar Airlangga di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (21/9).

Airlangga menjabarkan, harga gas di Singapura dan Malaysia jauh lebih rendah dibandingkan di Indonesia saat ini. Hal itu yang menyebabkan industri di dalam negeri sulit bersaing dengan negara-negara di ASEAN sekalipun.

“Harga tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga gas industri di negara tetangga,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, terdapat beberapa industri petrokimia yang ingin berinvestasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, namun masih mengurungkan niat karena melihat harga gas di Indonesia yang masih tinggi.

“Ada beberapa yang mau masuk, tapi mereka menahan investasinya. Harga gas kita masih tinggi,” ungkap Airlangga.

Diketahui, industri petrokimia menjadi salah satu industri yang penggunaan gasnya paling tinggi, misalnya industri pupuk.

Industri pupuk dikatakan mutlak mendapat harga gas murah karena berkontribusi 70% terhadap seluruh biaya produksi, karena gas menjadi bahan baku untuk industri ini.

Airlangga berharap, dengan terwujudnya harga gas murah, maka investasi disektor industri petrokimia dapat masuk ke Indonesia, sehingga industri ini kembali menggeliat di dalam negeri. (Andika)

Komentar