Harga Cabai Turun, Kementan: Salah Satu Faktornya Terbongkarnya Pengepul Nakal

0
Penjual Cabai di Pasar Induk Kramat Jati/Foto Richard Andika / NUSANTARAnews
Penjual Cabai di Pasar Induk Kramat Jati/Foto Richard Andika / NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Terbongkarnya sindikat pengepul atau kartel komoditas cabai pada 3 Maret 2017 lalu menjadi salah satu faktor penyebab turunnya harga cabai. Contohnya, terjadi penurunan harga mencapai Rp 19-20 ribu per kilogram di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Hortikultura dari Kementerian Pertanian, Spudnik Sudjono di kantornya, Jakarta, Senin (20/3/2017). Menurut dia, harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati per 12 Maret sebesar Rp 90 ribu per kg sementara per 19 Maret turun menjadi Rp 71 ribu per kg.

“Semua berpengaruh, dengan membaiknya iklim dan ditemukan ternyata ada kelompok besar yang sepakat membeli harga yang mahal, itu merusak. Dengan Bareskrim turun, sudah ada titik jelas itu dan itu juga mempengaruhi,” ujar Spudnik.

Namun, meski harga cabai rawit merah mulai berangsur turun, pihak Kementan akan terus mengawasi kegiatan produksi hingga distribusi cabai. Hal ini dilakukan agar tidak ada spekulan yang bermain saat harga cabai turun. “Diawali dengan situasi iklim yang semakin kondusif dan terbongkarnya sindikat pengepul besar harga sudah mulai terkoreksi,” kata Spudnik.

Selain itu, usaha Kementerian Pertanian dalam meningkatkan ketahanan cabai melalui program Gerakan Nasional Penanaman Cabai, kata Spudnik, juga cukup memberikan dampak positif.

“Pertanahan khusus cabai kan ada terus yang tanam. Dari CSR produsen di samping juga dukungan APBN. Cabai rawit 7.000-an hektar dan itu sudah mulai bergulir,” imbuh dia.

Reporter: Richard Andika

Komentar