Connect
To Top

Hanya Fasilitasi Kalangan Elit, Forum Ekonomi Dunia di Davos Tuai Kritik

NUSANTARANEWS.COThe World Economic Forum (WEF) atau Forum Ekonomi Dunia mendapat sorotan kritis dari sebagian kalangan. Forum rutinitas tahunan yang pada 2017 digelar di Davos, Swsiss dinilai tak lebih merupakan pertemuan kalangan elit dunia. Presiden China, Xi Jinping disebut-sebut sebagai tamu kehormatan di WEF tahun ini karena membawa proposal gagasan globalisasi inklusif. Sebagaimana telah dipaparkan, globalisasi inklusif dinilai sebagai sebuah gagasan baru untuk menyikapi dinamika perkembangan global yang telah berada di situasi batas atau mentok, terutama di bidang ekonomi dan perdagangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, WEF telah difokuskan pada masalah ekonomi, konflik kepentingan, ketidakstabilan dan perubahan politik, ekonomi dan teknologi. Pada tahun 2016, tema WEF adalah Menguasai Revolusi Industri Keempat (Mastering the Fourth Industrial Revolution). Tema tersebut dinilai sengaja dirancang untuk mempersiapkan pemimpin masa depan yang dibentuk oleh perubahan teknologi.

Tema itu menuai kritik. Pasalnya, para peserta WEF dinilai telah dengan sengaja mengabaikan fakta bahwa teknologi justru cenderung menghancurkan pekerjaan, memperburuk ketimpangan sementara yang diuntungkan adalah para pemilik perusahaan besar yang telah berhasil memanfaatkan teknologi untuk keuntungan sendiri. Kemajuan teknologi dinilai tak punya kejelasan dalam merespon perubahan dunia; perubahan iklim, perlambatan ekonomi di Eropa, Jepang dan pasar negara-negara berkembang, konflik bahkan resiko geopolitik.

Pada tahun 2017, fokus WEF lebih pada soal kepemimpinan responsif dan bertanggungjawab. Tema ini dinilai memunculkan populisme yang menjadi ancaman nyata bagi kontrol masyarakat dan ekonomi. Para peserta WEF, akan lebih fokus pada kompetisi geostrategis, antagonisme baru, solidaritas global, gangguan perubahan eksponensial, ketidakpastian rasa kebersamaan, transformasi identitas manusia serta pergeseran tradisional untuk heterarchies jaringan.

Anehnya, agenda setiap tahun masih saja membahas soal pertumbuhan ekonomi, perubahan lingkungan, sistem keuangan global, inkulsi sosial, kesetaraan gender, serta pertanian dan ketahanan pangan. Padahal, item-item tersebut sudah dibahas berulang kali pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Upaya WEF memfasilitasi forum untuk diskusi tentang masalah-masalah global menggambarkan ketidakcukupan arsitektur untuk menangani masalah ini.

WEF yang diselenggarakan di Davos tahun ini sedikitnya diikuti 2.000 peserta yang terdiri dari para pemimpin negara, politisi, birokrat, pemilik perusahaan dan kaum intelektual. Artinya, benar bahwa WEF adalah forum miliknya para elit, toh perwakilan pekerja tidak ada satupun yang mewakili. Padahal, salah satu tema bahasan dalam WEF ialah soal isu ketimpangan ekonomi. Parahnya lagi, para peserta WEF selain menghadiri forum tetapi juga kesempatan berziarah ke Kota Swiss, Davos. Toh, tak sedikit para peserta tiba dengan jet pribadi, yang secara tidak langsung mengarah pada sikap pamer.

Sekadar informasi, Davos adalah sebuah kota di Swiss bagian timur, tepatnya di Sungai Landwasser, Kanton Graubunden dengan penduduknya berjumlah 13.000 jiwa, Davos diyakini sebagai kota tertinggi di Swiss dan Eropa karena Davos adalah sebuah kota di Swiss bagian timur, tepatnya di Sungai Landwasser, Kanton Graubunden dengan penduduknya berjumlah 13.000 jiwa, Davos diyakini sebagai kota tertinggi di Swiss dan Eropa karena berada di atas 1.560 atau 5.120 kaki di atas permukaan laut. Suhu di Davos juga mencapai -5 derajat celcius pada 23 derajat fahrenheit. (Sego/Er)

Komentar