Lintas Nusa

Gusdurian: Indonesia Butuh Gagasan Positif

Bupati Way Kanan Provinsi Lampung Raden Adipati Surya (kanan) didampingi aktivis Gusdurian Gatot Arifianto (kiri). Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews
Bupati Way Kanan Provinsi Lampung Raden Adipati Surya (kanan) didampingi aktivis Gusdurian Gatot Arifianto (kiri). Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Aktivis Gusdurian Lampung Gatot Arifianto menyikapi adanya tanggapan kurang sejalan terhadap pemblokiran situs berkonten radikal dan negatif oleh sejumlah kalangan dan Anggota DPR RI. Dirinya menilai bahwa langkah pemerintah tersebut sebagai upaya mengkontruksi ulang bangsa yang lebih baik.

“Jika membangun rumah, konstruksi baik tentu akan dipilih pembuat rumah, demikian juga jika akan melakukan perbaikan. Indonesia sebagai bangsa telah dibangun oleh pendiri bangsa dengan konstruksi yang baik. Ketika ada kerusakan, anak-anak bangsa bertanggungjawab memperbaikinya dengan konstruksi yang baik pula,” ujar Gatot di Blambangan Umpu, Sabtu (7/1/2016).

Indonesia hari ini, lanjut dia, membutuhkan gagasan positif dan cerdas untuk pembangunan dan kemajuan. “Siapapun yang menolak pemblokiran situs mengandung konten negatif, saya sarankan berteriak kata ‘bodoh’ di sekitar lereng-lereng gunung atau lembah-lembah. Jika gema yang dihasilkan adalah “pintar”, dengan ikhlas saya akan belajar pada orang tersebut,” kata Gatot.

Situs dengan konten negatif, menurut dia adalah gagasan sampah yang sengaja diproduksi bukan oleh anak-anak TK, tapi orang dewasa yang tahu teknologi, bisa menulis dan tentu sadar saat akan mengunggah apa yang boleh ditayangkan atau tidak.

“Saya sarankan pula kepada pihak yang keberatan atau menolak pemblokiran situs mengandung konten negatif setiap hari mengatakan ‘bodoh’ kepada anaknya. Jika berkenan dan berani, lanjutkan saja teriakan penolakan terhadap pemblokiran situs dengan konten negatif. Anak yang dimotivasi bodoh setiap hari tentu akan jadi bodoh,” terangnya.

Untuk, baginya gagasan-gagasan positif harus terus dipupuk dan diproduksi guna menciptakan generasi yang lebih ke depan. Termasuk dalam menyajikan konten-konten yang tak mengundang isu sara, prokotif dan hoax. (Red-01)

Komentar

To Top