Ilustrasi gedung masa depan

NUSANTARANEWS.CO – Komitmen dunia mengembangkan green financing adalah angin segar bagi perekonomian dunia, terutama di sektor keuangan, pembangunan industri dan investasi.

Kini, dunia tengah sibuk mengkampanyekan pengurangan emisi dan polusi guna mempercepat pemulihan kondisi lingkungan dan menggalakkan gaya hidup yang ramah lingkungan. Ambil contoh misalnya Jerman yang bertekad menjadi negara pelopor yang akan menerapkan peraturan ketat dalam penggunaan kendaraan bermotor. Setidaknya pada 2030 mendatang, semua mobil yang dijual di Jerman harus bebas emisi. (Baca: Tahun 2030, Semua Mobil Yang Dijual di Jerman Harus Bebas Emisi)

Melihat kenyataan itu, industri-industri seperti mendapatkan pencerahan dan harapan baru dalam mengembangkan bisnisnya, terkhusus bisnis yang bersifat ramah lingkungan.

China adalah salah satu negara paling berambisi mengembangkan green financing guna memuluskan program Jalur Sutra Maritim Baru Abad 21. Bahkan negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu sudah memerintahkan kepada seluruh bank di China untuk turut serta mengembangkan green financing demi mewujudkan cita-cita China sebagai sebuah negara terdepan dalam urusan peradaban ekologi dunia. Pedoman Bangunan Sistem Green Financing telah diluncurkan pemerintah China. Sebuah kebijakan yang berusaha untuk mengintegrasikan pembangunan ekonomi dan pelestarian alam.

Selain China, Amerika Serikat serta sejumlah negara-negara maju di Eropa turut andil meramaikan green financing yang dianggap sebagai wajah keuangan, industri dan pembangunan di masa depan.

Meski ide green financing sebetulnya sudah ada sejak lama, KTT G-20 tahun ini bertema “Menuju Ekonomi Dunia Yang Inovatif, Dinamis, Interkonektif dan Inklusif” boleh jadi bukti dari keseriusan dunia mengimplementasikan green financing tersebut. Apa pasal? Ya, green financing adalah salah satu poin utama yang dibahas dalam KTT G20 yang berlangsung di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China.

Program green financing sudah mulai diterapkan di sejumlah negara di dunia, termasuk di Indonesia sendiri. Sebab, mengurangi emisi sudah menjadi agenda dunia untuk kehidupan di masa mendatang sekaligus mengeluarkan dunia dari lesunya kondisi perekonomian dunia akibat situasi batas yang sudah tak menentu sekarang ini. Lalu, green financing dinilai sebagai terobosan baru dan menjadi salah satu cara solutif menstabilkan perekonomian dunia. Karenanya, tema KTT G20 di China adalah “Menuju Ekonomi Dunia Yang Inovatif, Dinamis, Interkonektif dan Inklusif.”

Di Indonesia sendiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengarahkan implementasi green financing oleh pelaku industri perbankan salah satunya pemberian kredit kepada pelaku usaha yang berwawasan lingkungan yang mengacu pada UU No.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), green financing ini bertujuan mendorong pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

Penyediaan pendanaan proyek-proyek ramah lingkungan seperti energi baru dan terbarukan, pertanian organik, industri hijau dan eco tourism menjadi titik fokus OJK mendukung lembaga jasa keuangan dalam melaksanakan keuangan berkelanjutan (sustainable finance).

Terakhir, sekali lagi ditegaskan bahwa tujuan utama keuangan hijau ialah untuk meningkatkan laba atas laba investasi dan mengurangi laba polusi investasi. Sudah diikuti sedikitnya 80 negara di dunia, green financing tentu akan menjadi model baru pengembangan perekonomian dunia. (eriec dieda)

Komentar